Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kebergantungan Impor Naptha Bikin Industri RI Rawan Kena Guncangan Harga Global

📅 Kamis, 27 Agu 2026, 15:27 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kebergantungan Impor Naptha Bikin Industri RI Rawan Kena Guncangan Harga Global Doc: istimewa
Ket. Industri petrokimia nasional masih menghadapi tantangan besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Penguatan kapasitas produksi dalam negeri dinilai menjadi pekerjaan penting agar industri tidak terlalu mudah terdampak gejolak harga komoditas global

JAKARTA - Industri petrokimia nasional masih menghadapi tantangan besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Penguatan kapasitas produksi dalam negeri dinilai menjadi pekerjaan penting agar industri tidak terlalu mudah terdampak gejolak harga komoditas global.

Peneliti Center of Industry, Trade and Investment (CITI) INDEF Ahmad Heri Firdaus mengatakan ketergantungan tersebut belum bisa dilepaskan dalam waktu dekat. Sejumlah bahan baku masih harus didatangkan dari luar negeri sembari pemerintah dan pelaku industri menyiapkan penguatan kapasitas produksi domestik.

"Ya, ada beberapa komponen yang kita memang masih bergantung sama impor. Jadi memang untuk jangka pendek masih belum memungkinkan. Seperti naptha, itu sudah ada roadmap-nya sampai kita bisa memenuhi kebutuhan bahan baku sendiri, cuma perlu investasi yang lebih besar lagi, perlu peningkatan kapasitas produksi yang lebih besar lagi," kata Heri di Jakarta, Kamis (27/8).

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas produksi baru. Perubahan sumber pasokan juga perlu memperhitungkan pola distribusi yang selama ini sudah berjalan di industri pengguna, sehingga peralihan dari produk impor ke domestik tidak justru menciptakan biaya baru.

"Strategi substitusi impornya itu harus bisa berjalan smooth tanpa mengganggu rantai pasok yang efisien. Rantai pasoknya pasti berubah, tapi berubahnya itu jangan mengurangi efisiensi. Industri pengguna tentu tidak mau kalau efisiensinya turun. Jadi memang perlu ada investasi besar dulu di situ," ujarnya.

Heri melihat peluang investasi di sektor petrokimia sebenarnya cukup besar. Pasar domestik yang luas menjadi salah satu alasan mengapa pengembangan industri ini dinilai memiliki prospek, terutama karena produk turunannya digunakan oleh banyak sektor manufaktur.

Namun, masuknya investasi tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Industri petrokimia membutuhkan dukungan dari sisi hulu, mulai dari ketersediaan bahan mentah hingga energi dan infrastruktur.

"Kalau menurut saya, investasi di sektor petrokimia meningkat, peningkatannya cukup besar. Tapi ketika investasi itu masuk, harus diiringi dengan bagaimana meningkatkan kapasitas produksi. Investasi juga harus didukung ketersediaan bahan mentah, infrastruktur, tenaga kerja yang mumpuni, kemudian pasokan energi yang cukup," kata Heri.

Kondisi tersebut membuat pengembangan industri petrokimia tidak bisa hanya berfokus pada pembangunan pabrik. Ketersediaan minyak dan gas sebagai bahan dasar juga perlu diperkuat agar kapasitas produksi yang sudah terpasang dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Investasinya enggak cukup di petrokimia saja, tapi harus ada investasi di sisi hulunya untuk meningkatkan atau menyuplai migas atau minyak bumi yang lebih tinggi lagi untuk industri-industri selain energi. Jadi investasinya juga harus ada di sisi hulu," tuturnya.

Dari sisi kebijakan, Heri menilai pemberian insentif fiskal bukan satu-satunya jawaban. Pemerintah perlu membangun ekosistem industri yang membuat produksi dalam negeri mampu mencapai skala ekonomi dan bersaing dengan produk impor.

Pasalnya, kebutuhan bahan baku plastik di dalam negeri sudah sangat besar. Produk plastik digunakan mulai dari industri makanan dan minuman hingga otomotif, sehingga pasar domestik sebenarnya dapat menjadi modal bagi pengembangan industri bahan baku.

"Kalau saya rasa dari sisi insentif, kita enggak bisa lagi mengandalkan insentif fiskal. Yang dibutuhkan industri ternyata bukan insentif fiskal semata, tapi bagaimana ekosistem industrinya sudah terbentuk, skalanya sudah besar, bisa lebih efisien dan seterusnya," kata Heri.

Dia menilai ketergantungan impor membuat biaya produksi industri pengguna ikut rentan terhadap perubahan kondisi global. Ketika harga bahan baku melonjak, tekanan tidak berhenti di industri petrokimia, tetapi dapat merambat hingga produk yang sehari-hari dibeli masyarakat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • PLTS Didorong Jadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Hijau
    Preview komentar:
    Pembangunan PLTS dengan kapasitas 100 GWp ini tentu ...
  • Karawang Punya 9 Kawasan Industri, Warga Lokal Disiapkan Jadi Tenaga Kerja
    Preview komentar:
    Membaca ulasan positif mengenai komitmen Pak Bupati ini ...
  • Industri Pulp dan Kertas Indonesia Kian Mendunia, Paper Chain Expo 2026 Dorong Kemitraan Lintas Negara
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat mencerahkan. Poin tentang tuntutan praktik ...

Banjir bandang Parigi Moutong

1 jam lalu | Wahyu AP

Nasional
Banjir bandang Parigi Moutong
Nasional
Menkeu Pastikan DTSEN akan ...
Megapolitan
Halte Dukuh Atas Terpantau ...
Demo AMPB di DPR Membuah Hasil, DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Rampung 15 Desember 2026

Demo AMPB di DPR Membuah Hasil, DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Rampung 15 Desember 2026

27 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.