Setop Impor Agar Petani Tebu Termotivasi Meningkatkan Produktivitas
📅 Jumat, 28 Agu 2026, 03:05 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat mengunjungi perkebunan tebu milik Sugar Group Companies di Tulang Bawang Lampung, Rabu (26/8) mengatakan swasembada gula merupakan salah satu target prioritas Pemerintah, sehingga semua pihak diminta mendukung target tersebut.
Dalam mencapai swasembada Mentan menegaskan tidak semata bergantung pada perluasan lahan atau ekstensifikasi, tetapi juga melalui efisiensi di tingkat kebun dan pabrik, di mana peran petani penebang sebagai garda terdepan sangat vital.
Dengan tercapainya swasembada gula, maka Pemerintah otomatis akan menghentikan impor gula yang selama ini kerap merugikan petani dan produsen dalam negeri, karena harga jatuh.
Pakar pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur, Surabaya, Ramdan Hidayat yang diminta pendapatnya mengatakan, jika pemerintah ingin mewujudkan swasembada gula, maka semua pihak yang terlibat harus satu suara dan kompak.
Pemerintah katanya harus mengedepankan keselarasan kebijakan dalam mengejar target swasembada gula nasional.
“Kalau kita serius semua kementerian dan yang terkait harus satu suara dan kompak. Kementerian Perdagangan harus ikut mendukung langkah Kementerian Pertanian, jangan sampai di satu sisi kita mendorong produksi, tapi di sisi lain impor masih terus dibuka. Karena peningkatan produksi tidak hanya bergantung pertanian, tetapi juga pada kebijakan perdagangan, industri pengolahan, harga di tingkat petani, hingga kepastian pasar,” kata Ramdan.
Karena itu, lanjutnya, peningkatan produktivitas menjadi salah satu pekerjaan utama. Pemerintah harus mendorong ekosistem yang baik dengan penggunaan varietas tebu unggul, program bongkar ratoon, pendampingan petani, penguatan perbenihan, modernisasi pabrik gula, serta dukungan pembiayaan dan alat mesin pertanian.
“Hal yang paling penting sekarang bagaimana petani mendapatkan kepastian. Kalau petani mau menanam tebu, produktivitasnya harus naik, biaya produksinya harus efisien, kemudian hasil panennya juga harus terserap dengan harga yang memberikan keuntungan. Jadi swasembada bukan sekadar mengejar angka produksi, tetapi juga memastikan ekosistemnya berjalan,” jelasnya.
Pemburu Rente
Peneliti Senior Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Erwin Syahrial, mengatakan peningkatan produksi tidak akan berdampak optimal apabila kebijakan perdagangan justru membuka ruang bagi gula impor masuk ketika musim giling.
Impor yang tidak terukur dapat menekan harga gula domestik dan mengurangi insentif petani untuk meningkatkan produksi.
“Dari sisi ekonomi politik, persoalan gula bukan semata kemampuan produksi, tetapi juga konsistensi kebijakan antarkementerian. Jangan sampai Kementerian Pertanian bekerja meningkatkan produksi, sementara kebijakan kementerian lain justru melemahkan pasar gula nasional,” kata Erwin.
Pemerintah juga perlu mencegah kebijakan impor dipengaruhi kepentingan kelompok pemburu rente yang memperoleh keuntungan dari ketergantungan gula luar negeri. “Kekompakan Pemerintah akan memberikan kepastian pasar kepada petani sekaligus memperkuat kedaulatan pangan nasional,” pungkas Erwin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (1)
28 Aug 2026, 13:47 WIB.
Sebagai praktisi di industri pengolahan pangan, saya sangat sepakat dengan pandangan Bapak Ramdan Hidayat dalam artikel ini bahwa swasembada gula membutuhkan modernisasi pabrik dan kepastian penyerapan hasil panen dengan harga wajar, sehingga petani tebu kita benar-benar termotivasi tanpa harus terbayang-bayang ancaman gula impor saat musim giling tiba.
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!