Percepat Swasembada Kedelai, Kemenko Pangan Siapkan 10 Jurus Jitu untuk Genjot Produksi
📅 Selasa, 28 Jul 2026, 04:42 WIB | Oleh: OpikPada periode yang sama, impor kedelai rata-rata mencapai 2.459.519 ton atau 93,58 persen dari kebutuhan nasional.
Sebagian besar kedelai digunakan industri dan sektor hotel, restoran, dan katering, termasuk untuk produksi tahu, tempe, dan kecap.
Selain persoalan produksi, Widiastuti menyoroti regenerasi petani karena sekitar 70 persen petani disebut telah berusia di atas 45 tahun.
Menurut dia, pemanfaatan teknologi dan digitalisasi pertanian diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antargenerasi sekaligus membuat kegiatan pertanian lebih menarik bagi generasi muda.
Sebaiknya Anda baca juga:
Widiastuti juga mengatakan Kemenko Pangan melalui kelompok kerja perbenihan sedang mencermati potensi penyesuaian Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (PRG).
“Kita juga dari sisi kami di Kemenko Pangan, di Pokja Perbenihan, kita juga lagi menyikapi untuk revisi atau penyesuaian PP 21 Tahun 2005 yang sudah cukup lama terkait Keamanan Hayati untuk PRG,” ungkap dia.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi BS Sukamdani mengatakan swasembada kedelai memerlukan keterlibatan pemerintah, petani, lembaga penelitian, masyarakat, dan dunia usaha.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sudah mulai dirintis untuk kita menuju kepada swasembada (kedelai). Mudah-mudahan ini bisa kita laksanakan bersama-sama dan pihak pemerintah membuka peluang kepada seluruh masyarakat termasuk swasta untuk mengambil peran,” ujar Hariyadi.
Ia mengatakan PHRI turut mendukung peningkatan produksi kedelai nasional karena komoditas tersebut berkaitan erat dengan keberlanjutan industri tempe sebagai salah satu pangan khas Indonesia.
Menurut dia, peningkatan produksi kedelai dalam negeri juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor yang saat ini masih mendominasi pasokan bahan baku tempe.
Selain memperkuat ketahanan pangan, upaya tersebut dinilai dapat mendukung pengembangan tempe sebagai identitas kuliner Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor pariwisata melalui hotel dan restoran.
“Semakin kuat pasokan kedelai dalam negeri, semakin besar peluang pengembangan tempe sebagai produk pangan bernilai tambah sekaligus duta budaya Indonesia di tingkat internasional,” ucapnya. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!