Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tradisi Kampung Kuta Menjadi Penyangga Keberlanjutan Ciamis

📅 Senin, 27 Jul 2026, 16:17 WIB | Oleh:
Tradisi Kampung Kuta Menjadi Penyangga Keberlanjutan Ciamis Doc: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari
Ket. Seorang warga sedang duduk di pelataran rumahnya di Kampung Adat Kuta, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada Senin (27/7).

CIAMIS -- Hutan Adat Leuweung Gede di Kampung Kuta, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat (Jabar), menjadi penyangga utama keberlanjutan masyarakat di wilayah sekitarnya.

"Karena di sini itu menjaga tradisi sebetulnya untuk menjaga keberlanjutan. Kalau umumnya hutan itu dihabiskan, kampung ini mungkin enggak akan ada karena hutan di bawah, kita di atas. Kebalik, biasanya kan hutan di atas, hutannya di bawah, jadi hutan itu yang menyangga kami (masyarakat Kampung Kuta). Kalau hutan dihabiskan karena tanah labil, hilang kampung kita, tergeser," kata Sekretaris Adat Kampung Adat Kuta Ciamis Firman Khabibi pada Senin.

Firman menjelaskan tradisi seperti pamali atau pantangan yang masih dijaga ketat oleh adat menjadi salah satu kekuatan di Kampung Adat Kuta yang menjaga masyarakat tetap bisa berdaya secara ekonomi tanpa meninggalkan tradisi.

"Alhamdulillah, di sini masyarakat sudah tahu ada hutan adat, jadi kalau masuk ke hutan adat, itu otomatis dijaga, ibaratnya kalau di mana-mana kan pasti ada polisi hutan, di sini simpel, dengan pamali, sampai ranting pun warga nggak akan menggunakan untuk kayu bakar karena sudah aturan adat," ucapnya.

Hingga kini masyarakat di Kampung Adat Kuta juga masih menjaga keberlanjutan lingkungan dengan menaati aturan tidak mengebor sumur maupun menembok rumah. 100 persen tempat tinggal warga hingga kini masih berbentuk rumah panggung dengan fondasi kayu.

Firman menegaskan hal itu dilakukan selain untuk menjaga lingkungan, juga untuk membuat bangunan agar tetap kokoh mengingat tanah di wilayah Kampung Adat Kuta sangat labil.

"Sebenarnya air mudah di sini karena aturan adat, jadi kita tidak boleh menggali sumur karena tanahnya labil. Kalau orang adat bilang pamali, karena sudah turun-temurun enggak boleh, tapi kalau secara logika ya tadi, tanahnya labil," ujarnya.

"Saya pernah coba (menggali sumur) kenapa sih dilarang, padahal kita kan butuh air, tetapi ketika kita gali di tiga meter, dia akan tertutup lagi, karena di bawah ini pasir," imbuhnya.

Untuk menjaga air tetap mengaliri rumah-rumah warga, masyarakat Kampung Adat Kuta mengebor aliran di luar perbatasan wilayah, yang kemudian dialirkan melalui pompa air PAM (Perusahaan Air Minum).

"Itu dikelola oleh masyarakat adat komunal, makanya di depan-depan rumah ada meteran PAM kan, jadi kita di sini air itu beli, tetapi dengan begitu tidak melanggar adat, dan tetap menjaga tradisi," ucap Firman.

Sebelumnya Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni pernah berkunjung kerja ke Hutan Adat Leuweung Gede di Kampung Kuta selama dua hari (13-14 September 2025), yang sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung pengakuan dan perlindungan Masyarakat Hukum Adat (MHA) serta memperkuat peran mereka dalam menjaga kelestarian hutan

Hutan Adat Leuweung Gede memiliki luas sekitar 31 hektare dan menjadi satu-satunya hutan adat di Jabar, serta salah satu dari 10 hutan adat yang telah ditetapkan di Pulau Jawa. Dengan demikian Kampung Adat Kuta menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal mampu menjaga hutan dan ekosistem secara berkelanjutan.

Dalam dialog dengan masyarakat, Menhut mengapresiasi masyarakat adat yang konsisten menjaga hutan keramat dengan aturan adat yang ketat.

"Kampung Kuta adalah teladan bagaimana masyarakat adat menjaga alam dengan penuh kearifan. Ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong perhutanan sosial dan pengakuan hutan adat di seluruh Indonesia," ucapnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

DPR Kecam Aksi Main Hakim Sendiri di Bali

42 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Daerah
DPR Kecam Aksi Main Hakim S...
Megapolitan
Tanggul Laut yang Roboh di ...
Megapolitan
BPBD: Kekeringan di Kota Ta...
  • Begini Kronologi Lengkap Bentrokan Warga di Jalan Tambak Jakarta Pusat yang Menewaskan Satu Orang
    Preview komentar:
    2 kelompok warga, itu warga mana dg warga ...
  • Kementan Bantu Bibit Kelapa untuk Petani Barito Kuala, Produktivitas Perkebunan Ditingkatkan.
    Preview komentar:
    Di barisan paling depan, Kementerian Pertanian memainkan ...
    Keren
  • Penutupan Perlintasan Liar Kereta di Kediri
    Preview komentar:
    Wah, berarti kalau sehari hari kan lewat perlintasan ...
Waduhhh…Kasat Narkoba Tangsel Diringkus Bareskrim

Waduhhh…Kasat Narkoba Tangsel Diringkus Bareskrim

27 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.