Pertanian Modern Masuk Natuna, Kementan Bidik Lonjakan Produksi Padi
📅 Rabu, 22 Jul 2026, 21:15 WIB | Oleh: Tim PenulisNATUNA – Upaya meningkatkan produksi padi tanpa menambah luas lahan sawah menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan pertanian dan alih fungsi lahan yang terus berlangsung.
Peningkatan produktivitas dapat ditempuh melalui penggunaan benih unggul, modernisasi budidaya, optimalisasi irigasi, serta penerapan teknologi pertanian yang lebih efisien.
Dengan pendekatan tersebut, produksi berpotensi meningkat tanpa harus membuka lahan baru, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya pertanian.
Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menerapkan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM AAS) di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, sebagai upaya meningkatkan produksi padi tanpa menambah luas lahan sawah.
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepulauan Riau Rudi Hartono di Natuna, Rabu (22/7), mengatakan PM AAS merupakan program untuk meningkatkan populasi tanaman dalam satu hektare lahan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Program PM AAS merupakan upaya Kementerian Pertanian dalam mempercepat terwujudnya swasembada.
"Selama ini kebutuhan benih untuk satu hektare sekitar 25 kilogram dengan populasi sekitar 350.000 rumpun. Melalui PM AAS, kebutuhan benih ditingkatkan menjadi sekitar 70 kilogram per hektare agar populasi tanaman minimal 900.000 hingga 1,2 juta rumpun per hektare," katanya.
Agar metode itu berjalan efektif, pemerintah dari berbagai jenjang berkolaborasi memberikan dukungan kepada petani berupa benih, pupuk bersubsidi, serta alat dan mesin pertanian (alsintan). Pada 2026 bantuan tersebut telah disalurkan dan dapat diusulkan kembali oleh kelompok tani sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bantuan itu diperlukan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan nutrisi tanaman, akibat, bertambahnya populasi tanaman pada lahan yang sama.
"Penerapan program ini memerlukan tambahan pupuk organik dan anorganik. Kebutuhan pupuk dapat diusulkan melalui RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok)," ujar dia.
Saat ini, penerapan PM AAS di Natuna masih berada pada tahap sosialisasi kepada para penyuluh pertanian. Kegiatan tersebut dimulai pada Rabu (22/7) di Kecamatan Bunguran Timur sebagai langkah awal sebelum metode diterapkan oleh petani di lapangan.
Menurut dia, sosialisasi dilakukan untuk menyamakan pemahaman para penyuluh sehingga informasi yang disampaikan kepada petani dapat diterima secara utuh dan diterapkan dengan benar.
"Target program ini adalah meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat dibandingkan sebelumnya, penerapannya mulai tahun ini" ujar Rudi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!