Ketegangan Geopolitik Ubah Arah Pasar Global, Investor Perlu Lebih Selektif
📅 Minggu, 19 Jul 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta – Ketegangan geopolitik akibat konflik di Timur Tengah mulai mengubah arah pergerakan pasar global pada semester II-2026. Manulife Investment Management menilai kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi dan peluang investasi semakin tidak merata, sehingga investor perlu lebih selektif dalam memilih aset serta memperkuat diversifikasi portofolio.
Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management, Yuting Shao, mengatakan ketidakpastian makroekonomi, tingginya harga energi, dan gangguan rantai pasok membuat sejumlah bank sentral diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat (hawkish) untuk menekan inflasi.
"Pada saat yang sama, siklus ekonomi global masih bergerak tidak merata. Negara-negara dengan ketahanan energi domestik yang kuat atau yang terdorong langsung oleh tren besar teknologi terbukti jauh lebih resilien," kata Yuting di Jakarta, akhir pekan lalu.
Ia menambahkan, China mampu meredam dampak lonjakan harga minyak dunia melalui diversifikasi impor energi, pengendalian harga domestik, serta cadangan energi yang memadai.
"Dengan didukung pertumbuhan dasar yang solid, para pembuat kebijakan memiliki fleksibilitas untuk merespons secara dinamis apabila kondisi eksternal memburuk," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Global Head of Multi-Asset Solutions Manulife Investment Management, Luke Browne, menilai kondisi makroekonomi yang semakin beragam memperkuat pentingnya strategi investasi yang selektif dan terdiversifikasi.
Menurutnya, pasar tenaga kerja global yang masih kuat membuat pelonggaran suku bunga secara signifikan belum akan terjadi dalam waktu dekat.
"Dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan menunda terjadinya pelonggaran moneter yang signifikan, kami mempertahankan pendekatan yang sangat selektif dalam alokasi aset," kata Luke.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menilai kinerja laba perusahaan dan pertumbuhan ekonomi global masih cukup solid, namun risiko dan peluang investasi kini semakin berbeda di setiap kawasan maupun kelas aset.
"Meskipun pasar masih ditopang oleh kinerja laba yang resilien dan pertumbuhan yang stabil, risiko dan peluang menjadi semakin tidak merata antar kawasan dan kelas aset. Hal ini menegaskan pentingnya diversifikasi dan pengelolaan investasi secara aktif," ujarnya.
Luke memperkirakan kepemimpinan pasar saham tidak lagi hanya didorong oleh saham-saham teknologi berkapitalisasi besar dan sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tetapi juga aset berkualitas tinggi yang memiliki valuasi menarik.
Menurutnya, strategi investasi multi-aset yang seimbang akan menjadi kunci menghadapi volatilitas geopolitik dan dinamika valuasi, sekaligus memanfaatkan peluang investasi secara selektif, terutama di kawasan Asia yang masih didukung pertumbuhan struktural dan perkembangan industri AI.
"Kami juga melihat dukungan bagi aset riil tertentu, termasuk komoditas yang terkait dengan pengembangan infrastruktur AI, serta peluang pada instrumen kredit yang masih menawarkan imbal hasil menarik. Pada saat yang sama, kami lebih menyukai obligasi berdurasi pendek untuk membantu mengelola risiko suku bunga," ujar Luke.
Ketahanan Domestik
Di sisi lain, pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Chandra Purnama, menilai Indonesia perlu memperkuat ketahanan domestik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!