Pemerintah Akui Ketidakpastian Global Jadi New Normal, Pertumbuhan Ekonomi Masih Bergantung Belanja Negara
📅 Rabu, 15 Jul 2026, 05:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Jakarta – Pemerintah mengakui ketidakpastian ekonomi global kini bukan lagi kondisi sementara, melainkan telah menjadi "new normal". Namun, di tengah optimisme bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, sejumlah ekonom mengingatkan pemerintah agar tidak hanya mengandalkan percepatan belanja negara sebagai penopang pertumbuhan, melainkan juga memastikan kualitas tata kelola, efektivitas fiskal, dan penerimaan negara tetap terjaga.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan meningkatnya ketegangan geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan gangguan rantai pasok global telah menciptakan risiko ekonomi yang semakin kompleks.
"Kita hidup di tengah berbagai ketidakpastian yang mungkin bukan lagi bersifat sementara, tetapi sudah menjadi new normal," ujar Ferry dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Jakarta, Selasa (14/7).
Menurut Ferry, dinamika geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran, berpotensi memicu lonjakan harga komoditas, mengubah ekspektasi suku bunga global, hingga memberi tekanan pada negara dengan perekonomian terbuka seperti Indonesia.
Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup tangguh. Optimisme tersebut mengacu pada proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026, serta Asian Development Bank (ADB) yang memproyeksikan pertumbuhan 5,2 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk menjaga ketahanan tersebut, pemerintah mengklaim terus memperkuat tata kelola melalui reformasi sektor keuangan, pendalaman pasar keuangan, perluasan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT), pengembangan ekosistem bullion nasional, hingga transformasi digital, ekonomi hijau, dan kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, pemerintah juga mendorong penyempurnaan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) serta memperluas kerja sama ekonomi melalui forum internasional seperti OECD, BRICS, ASEAN, dan Indo-Pacific Economic Framework (IPEF).
Disiplin Fiskal
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, di sisi lain, Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz mengingatkan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026 masih sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mempercepat realisasi belanja negara.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III akan lebih baik dibandingkan kuartal II karena masih terdapat ruang belanja pemerintah yang cukup besar.
"Di kuartal III dan kuartal IV kami melihat belanja yang belum dibelanjakan masih cukup besar. Kalau ini dibelanjakan, akan menjadi dorongan lagi," kata Irman.
Menurutnya, perlambatan ekonomi pada kuartal II tidak lepas dari berakhirnya faktor musiman seperti Lebaran dan pembayaran tunjangan hari raya (THR), serta proses penyesuaian berbagai program prioritas pemerintah yang menyebabkan dorongan fiskal melemah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang lonjakan konsumsi pemerintah sebesar 21,81 persen, sementara konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyangga utama aktivitas ekonomi nasional.
Meski demikian, realisasi belanja negara hingga semester I 2026 baru mencapai Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari target APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Belanja pemerintah pusat bahkan baru terealisasi 41,2 persen, sehingga masih terdapat ruang belanja yang cukup besar pada semester kedua.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!