Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Pusat Pilih Jakarta untuk Operasional PFII, Opsi Bali Masih Dikaji

📅 Kamis, 20 Agu 2026, 17:00 WIB | Oleh:
Pemerintah Pusat Pilih Jakarta untuk Operasional PFII, Opsi Bali Masih Dikaji Doc: Koran Jakarta/Paundra Zakirulloh
Ket. Pemerintah memastikan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) akan mulai beroperasi di Jakarta pada tahap awal. Sementara itu, rencana pengembangan PFII di Bali masih dalam proses evaluasi oleh pemerintah.

JAKARTA - Pemerintah memastikan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) akan mulai beroperasi di Jakarta pada tahap awal. Sementara itu, rencana pengembangan PFII di Bali masih dalam proses evaluasi oleh pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, keputusan menjadikan Jakarta sebagai lokasi awal PFII sebenarnya telah ditetapkan sebelumnya. Namun, pemerintah belum mengungkap secara detail titik lokasi yang akan digunakan untuk operasional pusat finansial tersebut.

"Sudah (lokasi sudah ditentukan), tahap awal di Jakarta," ujar Airlangga di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026). Pernyataan tersebut mempertegas bahwa Jakarta akan menjadi lokasi pertama PFII sebelum pengembangan lebih lanjut dilakukan di wilayah lain.

Airlangga menjelaskan, pemerintah masih melakukan evaluasi terhadap opsi lokasi PFII di Bali. Salah satu lahan yang dipertimbangkan merupakan aset yang berada di bawah pengelolaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

"Bali dalam evaluasi, di salah satu lokasi milik Danantara," tuturnya.

Dengan demikian, pengembangan PFII di Bali belum memiliki keputusan final karena masih mempertimbangkan berbagai aspek yang diperlukan untuk mendukung operasional pusat finansial internasional.

Sebelumnya, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menjelaskan alasan Jakarta dipilih sebagai lokasi awal. Menurut Rosan, Presiden Prabowo Subianto menginginkan PFII dapat segera beroperasi dan memanfaatkan momentum yang ada.

Rosan mengatakan, operasional awal PFII di Jakarta memungkinkan pemerintah menjalankan pusat finansial tersebut tanpa harus menunggu pembangunan fasilitas baru selesai. Langkah itu sekaligus menjadi upaya untuk memastikan PFII dapat segera menjalankan fungsi yang telah dirancang pemerintah.

"Lokasinya untuk awal ini memang di Jakarta dulu, kenapa? Karena bapak presiden ingin ini semua langsung kerja, ada momentumnya ya," ujar Rosan di Kantor Pusat DJP, Jakarta Selatan, sebagaimana dikutip pada Minggu (16/8/2026).

Menurutnya, kebutuhan untuk segera menjalankan PFII menjadi salah satu alasan utama Jakarta dipilih sebagai lokasi tahap awal.

Pemilihan Jakarta juga memungkinkan pemerintah memanfaatkan ekosistem ekonomi dan keuangan yang sudah berkembang. Sebagai pusat pemerintahan dan salah satu pusat aktivitas bisnis terbesar di Indonesia, Jakarta dinilai memiliki infrastruktur dan jaringan pendukung yang dapat membantu PFII memulai operasionalnya.

Berbeda dengan Jakarta, pengembangan PFII di Bali membutuhkan persiapan yang lebih panjang. Rosan menyebut pembangunan di Bali akan mencakup kebutuhan infrastruktur fisik sehingga tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Meski begitu, Bali tetap menjadi salah satu pilihan penting karena memiliki daya tarik kuat bagi investor internasional. Karakter Bali sebagai destinasi global dinilai dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan pusat finansial yang menyasar investor dari berbagai negara.

Menurut Rosan, investor melihat Bali memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan sejumlah pusat finansial internasional lainnya. Daya tarik tersebut tidak hanya berasal dari sektor investasi, tetapi juga dari kekuatan pariwisata yang telah memiliki reputasi di tingkat dunia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

34 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

42 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

42 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.