Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Super El Niño Mengancam, Harga Pangan Dunia Bisa Terguncang hingga 2028

📅 Senin, 13 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh:

Tanda-tanda awal tekanan terhadap sektor pertanian disebut mulai terlihat di India. Menurut analis Goldman Sachs, sejumlah wilayah hanya menerima sekitar 25 persen dari curah hujan normal, sementara beberapa bagian India tengah menerima sekitar separuh dari biasanya.

Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produksi gandum, beras, dan tebu.

Asia Tenggara juga berada dalam posisi rentan. Kekeringan dapat mengganggu produksi minyak sawit, komoditas penting yang digunakan dalam berbagai produk pangan. Produksi kopi dan kakao juga berisiko terdampak.

Sementara itu, kondisi yang lebih hangat dan lembap di wilayah tertentu dapat meningkatkan penyebaran penyakit tanaman, sehingga dampaknya terhadap hasil panen berpotensi berlangsung selama beberapa tahun.

Secara umum, El Niño meningkatkan risiko kekeringan di Afrika bagian selatan dan wilayah utara Amerika Selatan. Sebaliknya, Brasil selatan, Argentina, Paraguay, dan Uruguay menghadapi risiko curah hujan berlebihan dan banjir.

Negara-negara berpenghasilan rendah diperkirakan menjadi kelompok yang paling rentan karena memiliki kemampuan lebih terbatas untuk menghadapi kenaikan harga pangan dan energi.

Harga Beras, Kopi hingga Minyak Sawit Bisa Melonjak 100 Persen

Skenario paling ekstrem bahkan jauh lebih mengkhawatirkan.

UniCredit memperkirakan Super El Niño berpotensi menurunkan produksi pertanian global hingga 14,3 persen, setara dengan kehilangan produksi senilai sekitar 342 miliar dolar AS.

Guncangan harga pada sejumlah komoditas utama diperkirakan dapat mencapai 10 hingga 50 persen. Sementara komoditas yang paling rentan—termasuk beras, minyak sawit, gula, dan kopi—dalam skenario ekstrem dapat mengalami kenaikan harga 50 hingga 100 persen atau bahkan lebih.

Ancaman itu semakin serius karena El Niño datang ketika sistem pangan dunia sudah menghadapi tekanan akibat perang Iran. Konflik tersebut telah mendorong harga energi, mengganggu pasokan pupuk dan memperumit rantai distribusi global.

Dalam situasi pasar yang sudah rapuh, UBS memperingatkan bahwa bahkan gangguan pasokan dalam skala kecil dapat memicu lonjakan harga yang jauh lebih besar dibandingkan pola historis.

Dunia memang memasuki paruh kedua 2026 dengan sejumlah cadangan pangan. Namun, ruang untuk menghadapi kegagalan panen besar semakin sempit.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Myanmar Dilanda Banjir Mematikan

49 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Myanmar Dilanda Banjir Mema...
Luar Negeri
Mantan Penguasa Qatar, Hama...
Megapolitan
Lingkungan Sehat Ciptakan K...
Megapolitan
Bekasi Dorong Para Pebisnis...
Megapolitan
Pemprov Ingin Bangun Kopera...
Kemenhub Targetkan Bandara Husein Layani Pesawat Jet Mulai 17 Agustus

Kemenhub Targetkan Bandara Husein Layani Pesawat Jet Mulai 17 Agustus

12 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.