Kepastian Kebijakan, Tantangan Terbesar Pengembangan PLTS
📅 Senin, 13 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi» PLTS harus dipandang sebagai strategi meningkatkan daya saing ekonomi nasional, bukan agenda lingkungan semata.
JAKARTA - Potensi energi surya Indonesia yang mencapai sekitar 3.294 gigawatt (GW) hanya akan menjadi angka di atas kertas, jika Pemerintah tidak mampu mempercepat realisasi investasi.
Pakar Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmi Radhi, mengatakan tantangan terbesar pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) saat ini bukan lagi pada ketersediaan sumber daya, melainkan kepastian kebijakan dan pelaksanaan proyek.
Fahmi mengatakan minat investor terhadap energi bersih sebenarnya terus meningkat seiring kebutuhan industri global terhadap pasokan listrik rendah emisi. Namun, investor membutuhkan kepastian mengenai jadwal pengadaan proyek, skema pembelian listrik, serta konsistensi regulasi agar investasi dapat segera direalisasikan.
“Investor tidak hanya melihat besarnya potensi energi surya Indonesia, tetapi juga kepastian proyek yang bisa segera dikerjakan dan menghasilkan keuntungan,” kata Fahmi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, PLN memegang peran strategis dalam mempercepat transisi energi nasional. Kepastian rencana pengadaan pembangkit, kesiapan jaringan transmisi, hingga kemudahan proses bisnis akan menentukan seberapa cepat investasi energi surya dapat masuk ke Indonesia. Tanpa langkah tersebut, Indonesia berisiko tertinggal dari negara lain yang lebih agresif menawarkan kepastian investasi energi hijau.
Fahmi menilai percepatan investasi energi surya bukan hanya berkaitan dengan pencapaian target bauran energi baru terbarukan, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk menarik investasi manufaktur, pusat data, industri kendaraan listrik, hingga sektor-sektor lain yang kini mensyaratkan penggunaan energi bersih dalam rantai pasoknya. Karena itu, pengembangan PLTS harus dipandang sebagai strategi meningkatkan daya saing ekonomi nasional, bukan agenda lingkungan semata.
Pemerintah tambahnya perlu memastikan koordinasi yang lebih kuat antara kementerian terkait dan PLN agar berbagai rencana pengembangan energi surya tidak berhenti pada tataran perencanaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Indonesia sudah memiliki modal berupa potensi energi surya yang sangat besar. Sekarang yang dibutuhkan adalah keberanian mengeksekusi kebijakan secara konsisten sehingga potensi tersebut benar-benar berubah menjadi investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi," kata Fahmi.
Penurunan Biaya Investasi
Di waktu lain,Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi menilai PLTS kini semakin menarik secara ekonomi dan teknologi.
“Teknologinya semakin mature sehingga harganya menurun kualitasnya meningkat,” ujar Hafidz.
Dia pun menguraikan terjadi penurunan biaya investasi yang signifikan. “Perbandingannya secara kasar, dulu investasi per 1 megawatt (MW) di kisaran 2 juta dollar AS, sekarang turun antara 700 ribu sampai 1 juta dollar AS, dengan tingkat efisiensi meningkat dan daya panel juga mampu naik 3 kali lipat dari 200wp kini menjadi 700wp. Durabilitas juga naik dari 20 tahun menjadi 30-35 tahun,” jelasnya.
Menurut Hafidz, penurunan harga itu didorong oleh persaingan produsen panel surya global yang sangat kompetitif sehingga mendorong inovasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!