Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

ADB Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Negara Asia Pasifik

3 Senin, 13 Jul 2026, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
ADB Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Negara Asia Pasifik ADB Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Negara Asia Pasifik Doc: istimewa
Ket. Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB)

JAKARTA - Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan proyeksi pertumbuhan tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Vietnam, di tengah perlambatan prospek ekonomi kawasan.

Berdasarkan laporan Asian Development Outlook (ADO) July 2026 yang dirilis ADB dan dikutip di pekan lalu menyebutkan di kawasan, ADB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Tenggara menjadi 4,6 persen pada 2026 dari sebelumnya 4,7 persen.

Meski demikian, di antara negara-negara utama ASEAN, hanya Filipina yang mengalami revisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini, dari 4,4 persen pada proyeksi April 2026 menjadi 3,8 persen dalam laporan terbaru ADB.

Secara keseluruhan, ADB juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik menjadi 4,9 persen pada 2026, turun dari proyeksi 5,1 persen yang dipublikasikan pada April.

Menanggapi proyeksi ADB, Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, meminta publik tidak hanya terpaku pada angka 5,2 persen.

“Saya rasa kita tidak boleh hanya terpaku pada angka 5,2 persen karena proyeksinya dipertahankan. Di balik itu, ADB justru memangkas proyeksi pertumbuhan negara berkembang dan Asia Tenggara, sekaligus menaikkan proyeksi inflasi kawasan,” kata katanya.

Hal itu menunjukkan risiko ekonomi mulai bergeser. “Artinya, pertumbuhan memang masih terjaga, tetapi tekanan harga meningkat. Ini menunjukkan risiko ekonomi mulai bergeser, bukan kondisi yang sepenuhnya membaik,” jelasnya.

Dia juga menilai posisi Indonesia sebagai ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi kedua di ASEAN perlu dibaca proporsional.

“Itu lebih mencerminkan pelemahan negara lain, sementara pertumbuhan 5,2 persen sendiri masih berada di sekitar laju potensial Indonesia. Jadi ini menunjukkan ketahanan, tetapi belum bisa disebut akselerasi,” katanya.

Proyeksi ADB jelasnya disusun dengan asumsi kondisi global membaik, terutama pasar energi. Padahal saat ini ketegangan geopolitik kembali meningkat.

“Dengan meningkatnya kembali ketegangan geopolitik, risiko yang sebelumnya hanya menjadi skenario kini mulai menjadi kenyataan. Karena itu, angka 5,2 persen sebaiknya dipandang sebagai skenario dasar yang risikonya kini cenderung mengarah ke bawah,” katanya.

Pemerintah tambahnya kini menghadapi dilema kebijakan. Jika kenaikan harga energi ditahan lewat subsidi, maka ruang fiskal akan menyempit. Namun jika harga diteruskan ke masyarakat, daya beli akan melemah.

Pada kesempatan terpisah, pengamat ekonom STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026 oleh ADB jangan sampai membuat Pemerintah terlena.

Proyeksi ADB katanya lebih didasarkan pada ketahanan sektor riil Indonesia, terutama konsumsi rumah tangga yang besar, investasi yang masih berjalan, serta aktivitas ekonomi domestik yang relatif tidak terlalu bergantung pada ekspor dibandingkan sejumlah negara ASEAN lainnya.

“ADB melihat kemampuan ekonomi Indonesia dalam menjaga pertumbuhan dari sisi permintaan domestik. Selama konsumsi masyarakat tetap terjaga dan investasi tidak mengalami kontraksi tajam, target pertumbuhan 5,2 persen masih dinilai realistis,”katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar keuangan memiliki cara pandang yang berbeda. Investor cenderung lebih sensitif terhadap risiko jangka pendek seperti pelebaran defisit fiskal, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, hingga potensi keluarnya arus modal asing.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Daerah
Dirjen KSDAE: Seekor Anak B...

Diskotek di Surabaya Wajib Antar Pulang Pengunjung yang Mabuk

55 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Diskotek di Surabaya Wajib ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kabar Gembira!!! BSU 2026 Rp900 Ribu Resmi Ditetapkan Pemerintah, Syarat & Penerimanya Cek Disini!

Kabar Gembira!!! BSU 2026 Rp900 Ribu Resmi Ditetapkan Pemerintah, Syarat & Penerimanya Cek Disini!

03 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.