Mengapa Planet GJ 504b Berwarna Merah Muda?
📅 Selasa, 30 Jun 2026, 07:18 WIB | Oleh: Haryo BronoJAUH di kedalaman ruang angkasa, sekitar 57 tahun cahaya dari Bumi, terdapat sebuah dunia yang tampak seperti lahir dari imajinasi pelukis. Planet itu tidak berwarna biru seperti Bumi, tidak pula merah kecokelatan seperti Mars. Ia memancarkan rona merah muda (pink) gelap yang lembut, seolah-olah diselimuti cahaya senja yang tak pernah berakhir.
Selama bertahun-tahun, penampilannya menjadi teka-teki besar bagi para astronom. Apa yang membuat sebuah planet bisa berwarna merah muda? Apakah atmosfernya dipenuhi debu? Apakah terdapat senyawa kimia yang belum pernah ditemukan? Atau ada proses alam yang sama sekali asing bagi ilmu pengetahuan?
Kini, lebih dari satu dekade setelah pertama kali ditemukan, misteri itu akhirnya mulai terjawab. Berkat kecanggihan Teleskop Luar Angkasa James Webb (James Webb Space Telescope/JWST), para ilmuwan mengungkap bahwa langit GJ 504b dipenuhi awan garam eksotis fenomena yang belum pernah diamati secara rinci sebelumnya pada sebuah eksoplanet.
“Planet Merah Muda adalah pendamping terdingin yang pernah ditemukan menggunakan instrumen berbasis darat. Banyak tim di seluruh dunia melakukan pengamatan lanjutan untuk mempelajari cahayanya, tetapi terlalu redup untuk instrumen berbasis darat,” ujar Aneesh Baburaj, peneliti Northwestern University dan penulis utama studi.
“Itu menjadikannya target yang sempurna untuk JWST. Ketika kami akhirnya memperoleh spektrumnya, itu langsung terlihat menarik. Tetapi begitu kami mulai menggali lebih dalam ke dalam data, kami menyadari bahwa itu tidak seperti apa pun yang pernah kami analisis sebelumnya,” tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penemuan tersebut bukan hanya menjelaskan warna unik planet itu. Ia juga mengingatkan manusia bahwa alam semesta menyimpan bentuk-bentuk cuaca yang jauh melampaui apa yang dialami di Bumi.
Berbeda dari Semua yang Pernah Dikenal
Di Bumi, manusia mengenal awan sebagai kumpulan tetesan air atau kristal es. Ketika udara mendingin, uap air mengembun menjadi awan putih yang melayang di langit. Hujan, salju, dan kabut adalah bagian dari siklus yang telah akrab dengan kehidupan manusia selama ribuan tahun. Namun, alam semesta tidak selalu mengikuti aturan yang sama.
Di planet-planet yang memiliki suhu sangat tinggi, awan bisa terbentuk dari zat yang bagi manusia tampak mustahil. Ada planet yang diperkirakan memiliki awan silikat material penyusun pasir di pantai. Ada pula yang diduga diselimuti awan besi, titanium, aluminium oksida, bahkan batuan yang menguap akibat temperatur ekstrem.
“Kami menguji tiga jenis awan yang berbeda, dan awan garam memberikan kecocokan terbaik. Ketika awan garam dimasukkan ke dalam model, sinyal molekul dari lapisan atmosfer yang lebih dalam menjadi lebih sesuai dengan hasil pengamatan. Saat itulah model kami akhirnya masuk akal secara fisika,” terang Baburaj.
GJ 504b kini menambah daftar keajaiban tersebut. Atmosfernya ternyata dipenuhi kristal garam yang melayang pada lapisan atas atmosfer. Partikel-partikel mikroskopis itu memantulkan cahaya bintang induknya sedemikian rupa sehingga menghasilkan warna merah muda yang begitu khas. Bukan permukaan planet yang berwarna merah muda, melainkan langitnya.
Planet yang Menjadi Teka-Teki Sejak Ditemukan
GJ 504b pertama kali menarik perhatian dunia astronomi pada 2013. Planet ini ditemukan mengorbit sebuah bintang yang berada di rasi Virgo, sekitar 57 tahun cahaya dari Tata Surya. Yang membuatnya langsung terkenal bukan ukurannya, melainkan penampilannya.
Berbeda dengan kebanyakan planet raksasa yang tampak kebiruan atau kecokelatan, GJ 504b justru terlihat berwarna merah muda keunguan. Foto-foto hasil pengamatan segera beredar di berbagai media dan menjadikannya salah satu eksoplanet paling ikonik yang pernah dipotret secara langsung.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!