Bapanas Pastikan Stok Kedelai Aman Hingga Akhir Tahun 2026
📅 Selasa, 22 Sep 2026, 14:55 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan kedelai nasional tetap aman hingga akhir 2026 dengan proyeksi surplus sekitar 290,9 ribu ton meski ketergantungan terhadap impor masih tinggi.
"Kami sampaikan kepada masyarakat, pasokan kedelai nasional saat ini tersedia dan secara neraca masih mencukupi," kata Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan di Jakarta, Selasa.
Dia menyebutkan berdasarkan Neraca Pangan Nasional Bapanas per 3 September 2026, total ketersediaan kedelai tahun 2026 diproyeksikan sekitar 3,046 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional sekitar 2,755 juta ton. Dengan demikian, sampai akhir tahun secara proyeksi masih terdapat stok sekitar 290,9 ribu ton.
Ia menuturkan kebutuhan kedelai nasional saat ini sekitar 229,6 ribu ton per bulan, atau sekitar 7.547 ton per hari. Sehingga masyarakat dan perajin tahu-tempe tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan secara nasional.
"Namun kami juga harus terbuka bahwa struktur pasokan kedelai Indonesia masih sangat bergantung pada impor," ujarnya.
Produksi dalam negeri tahun 2026 diperkirakan sekitar 131,5 ribu ton, sedangkan realisasi impor Januari-Agustus telah mencapai sekitar 1,920 juta ton, dan terdapat rencana impor September-Desember sekitar 750,4 ribu ton.
"Inilah yang harus kita perbaiki secara bertahap melalui peningkatan produksi dalam negeri sekaligus penguatan cadangan pemerintah," ucapnya.
Terkait masukan dari perajin soal harga sering dipengaruhi importir, kata Hermawan, pemerintah tentu tidak ingin langsung menyimpulkan terjadi permainan harga tanpa pemeriksaan data dan rantai distribusi secara menyeluruh.
Tetapi setiap keluhan perajin akan ditindaklanjuti. Bapanas akan melihat harga mulai dari importir, distributor sampai ke perajin tahu-tempe, termasuk biaya logistik dan disparitas harga antarwilayah.
"Pemerintah telah menetapkan HAP (harga acuan pembelian) kedelai impor di tingkat perajin tahu-tempe maksimal Rp12.000 per kilogram," katanya:
Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) per 10 September menunjukkan harga di sejumlah wilayah Jawa masih berada di kisaran Rp11.200–Rp11.850 per kilogram, meskipun memang terdapat disparitas dan harga lebih tinggi di sejumlah wilayah luar Jawa.
"Karena itu, pengawasan akan kita fokuskan pada daerah yang mengalami harga tinggi dan pada setiap mata rantai distribusinya. Mengenai cadangan kedelai pemerintah, ini merupakan langkah yang sangat penting," ucap Hermawan.
Pemerintah sudah menetapkan penguatan cadangan kedelai pemerintah (CKP) dengan target pengadaan minimal 70 ribu ton pada 2026, dan Perum Bulog telah dipersiapkan untuk menjalankan penugasan tersebut.
Dengan cadangan yang dikuasai pemerintah, negara mempunyai instrumen untuk melakukan intervensi apabila terjadi gangguan pasokan atau lonjakan harga yang tidak wajar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!