Maket Gunung Samalas dan Tambora di Museum NTB Simpan Kisah Letusan Dahsyat Dunia.
📅 Kamis, 25 Jun 2026, 12:15 WIB | Oleh: Yebdi TrismarLokakarya sederhana yang berlangsung secara daring itu menjadi gerbang pertukaran pengetahuan, riset, dan peningkatan kualitas pengelolaan artefak keris antara Indonesia dengan Australia.
Nusa Tenggara Barat saat ini memiliki 14 museum yang terdiri atas satu museum provinsi di Kota Mataram, empat museum daerah di Pulau Sumbawa, dan sembilan museum desa yang tersebar di beberapa kabupaten di Pulau Lombok.
Koleksi tombak, keris, perkakas rumah tangga, naskah kuno, maupun kain tenun merupakan media yang mengangkut babad tentang nilai, teknologi, tradisi, dan bagaimana sebuah peradaban berkembang dari waktu ke waktu.
Ketika pengunjung melihat dan mempelajari ragam koleksi artefak museum, mereka sebetulnya sedang membangun penafsiran budaya yang berbeda tanpa harus melalui meja perundingan resmi yang dikeliling pengawalan tim protokol dan lampu denyar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di ruang-ruang urban, museum menjadikan sejarah sebagai bahasa universal untuk membangun hubungan komunikasi yang efektif hingga mampu melampaui sempadan suku dan negara.
Etalase peradaban
Jika kita ingin mengenal perjalanan suatu bangsa secara lebih mendalam, maka datanglah ke museum. Kalimat itu terdengar relevan mengingat ada banyak negara maju memposisikan museum sebagai magnet pariwisata sekaligus simbol kebangsaan nasional.
Arab Saudi, misalnya, negara yang dikenal luas sebagai pusat spiritual bagi penganut agama Islam kini mulai menempatkan pariwisata sebagai jualan utama mereka.
Masjid Nabawi, masjid terpenting kedua dalam sejarah peradaban Islam, yang terletak di Kota Madinah justru dikepung oleh museum, di antaranya Museum Al Quran, Museum Biografi Nabi Muhammad, Museum As-Syafiah, hingga Museum Dar Al Madinah.
Beberapa bandara di dunia juga telah mengintegrasikan museum dengan terminal agar para penumpang bisa menikmati suguhan seni, budaya, dan mempelajari sejarah selama proses menunggu pesawat maupun saat kedatangan.
Adapun Indonesia sejauh ini belum memiliki museum spesifik atau galeri yang beroperasi di dalam terminal bandara komersial. Banyak bandara masih menampilkan fungsi transportasi dan niaga ketimbang memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya bangsa.
Padahal, bandara bisa menjadi lokasi yang ideal bagi kehadiran museum sebagai etalase singgah pertama kali para turis sebelum pelesiran lebih jauh di wilayah Indonesia.
Wisatawan dapat lebih mengenal kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Indonesia melalui museum, mulai dari temuan prasejarah, kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara, perdagangan lintas benua, hingga perjuangan mewujudkan kemerdekaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!