Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Hati-hati, Obesitas Bisa Picu Perlemakan Hati hingga Kanker Jika Tak Cepat Ditangani

28 Jumat, 12 Jun 2026, 13:40 WIB | Oleh:
Hati-hati, Obesitas Bisa Picu Perlemakan Hati hingga Kanker Jika Tak Cepat Ditangani Hati-hati, Obesitas Bisa Picu Perlemakan Hati hingga Kanker Jika Tak Cepat Ditangani Doc: UCLA
Ket. Ilustrasi

JAKARTA - Pengelolaan berat badan pada pasien obesitas menjadi tata laksana yang perlu menjadi perhatian untuk mencegah gangguan metabolik penyakit hati berlemak atau Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD).

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi dari RS Cipto Mangunkusumo, Prof. Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, mengatakan individu yang hidup dengan obesitas, obesitas sentral, diabetes tipe 2, maupun hasil pemeriksaan fungsi hati yang tidak normal perlu mewaspadai kondisi MASLD.

"Mereka juga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk melakukan penilaian risiko serta deteksi dini kesehatan hati," katanya dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Jumat (12/6).

Rino mengatakan bahwa penyakit perlemakan hati perlu dipahami sebagai suatu spektrum. Pada tahap awal, kondisi ini dapat berupa penumpukan lemak di hati.

"Jika faktor risikonya tidak dikelola dengan tepat, sebagian pasien dapat mengalami progresi menjadi MASH, yaitu bentuk yang lebih berat karena sudah melibatkan peradangan dan kerusakan sel hati," katanya.

Obesitas merupakan salah satu pendorong utama kondisi ini karena dapat menyebabkan gangguan metabolik dan penumpukan lemak di berbagai organ, termasuk hati.

Jika obesitas tidak dikelola dengan baik, pada sebagian pasien, MASLD dapat berkembang menjadi Metabolic Dysfunction-Associated Steatohepatitis (MASH) yakni bentuk lebih berat dengan peradangan/kerusakan sel hati.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati.

Rino menjelaskan MASLD juga perlu dilihat sebagai bagian dari risiko kardiometabolik yang lebih luas, karena penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan MASLD.

“Karena itu, deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko secara menyeluruh menjadi sangat penting,” jelas Prof. Rino.

Sementara itu dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, metabolik, dan diabetes dari RS Cipto Mangunkusumo dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD menambahkan obesitas perlu dipahami sebagai kondisi medis kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif.

Ia mengatakan tujuan tata laksana obesitas bukan hanya menurunkan angka berat badan, tetapi juga mendukung quality weight loss dan kesehatan metabolik jangka panjang.

“Obesitas merupakan kondisi medis yang kompleks dan tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan kemauan semata. Kelebihan lemak tubuh, terutama lemak viseral, dapat memicu resistensi insulin, inflamasi, dan gangguan metabolik yang berdampak pada berbagai organ, termasuk hati, jantung, dan pembuluh darah,” katanya.

Dicky mengatakan ketika terapi farmakologi dipertimbangkan, termasuk terapi berbasis GLP-1, perlu dilakukan berdasarkan kondisi pasien dan bukti klinis yang relevan, termasuk manfaat terhadap jantung dan pembuluh darah pada populasi pasien yang sesuai perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam diskusi antara pasien dan dokter.

Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Novo Nordisk Indonesia menegaskan pentingnya edukasi, deteksi dini, serta pengelolaan faktor risiko, terutama obesitas, untuk membantu mencegah progresi penyakit perlemakan hati dengan inovasi terapi berbasis GLP-1 RA melalui momentum Global Fatty Liver Day 2026.

Direktur PTM Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi, mengajak masyarakat untuk memahami risiko fatty liver yang dipicu obesitas dengan melakukan deteksi dini guna menjaga kesehatan hati.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta

Menhut Ungkap Situasi Karhutla Berangsur Membaik

15 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Menhut Ungkap Situasi Karhu...
Nasional
Kemenhub Usulkan WFA untuk ...
Megapolitan
Telin Dorong Kemandirian Di...
Megapolitan
Pramono Tegaskan Tiket Anco...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
RI Bidik E50, 320 Pabrik Etanol Baru Dibutuhkan untuk Pangkas Impor Energi  Triliunan Rupiah

RI Bidik E50, 320 Pabrik Etanol Baru Dibutuhkan untuk Pangkas Impor Energi Triliunan Rupiah

28 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.