Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Diduga Tertular Ebola, Tiga Relawan Palang Merah Meninggal Saat Tangani Jenazah di RD Kongo

📅 Minggu, 24 Mei 2026, 09:57 WIB | Oleh:
Diduga Tertular Ebola, Tiga Relawan Palang Merah Meninggal Saat Tangani Jenazah di RD Kongo Doc: AFP via BBC
Ket. Para relawan Palang Merah diduga telah terinfeksi sebelum wabah tersebut teridentifikasi, kata Palang Merah

JAKARTA - Tiga orang relawan Palang Merah meninggal dunia di Republik Demokratik Kongo diduga akibat tertular Ebola saat menangani jenazah, demikian pernyataan organisasi tersebut.

Mengutip laporan BBC, mereka diyakini tertular Ebola pada tanggal 27 Maret saat bekerja di wilayah timur Ituri dalam sebuah proyek yang tidak terkait dengan virus tersebut, sebelum wabah itu teridentifikasi.

Para relawan tersebut termasuk di antara korban pertama yang diketahui dari wabah Ebola di RD Kongo, yang telah mengakibatkan lebih dari 170 kematian dan 750 kasus.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) mengatakan mereka meninggal setelah melayani masyarakat "dengan keberanian dan kemanusiaan".

Mereka Adalah Alikana Udumusi Augustin, Sezabo Katanabo, dan Ajiko Chandiru Viviane. Mereka meninggal antara tanggal 5 dan 16 Mei saat sedang bekerja di kota Mongwalu, yang sekarang dianggap sebagai pusat wabah.

Para ahli kesehatan memperingatkan jenazah pasien Ebola dapat menyebarkan virus karena cairan tubuh tetap sangat menular setelah kematian.

Wabah ini melibatkan spesies Ebola langka, yang dikenal sebagai Bundibugyo, yang belum memiliki vaksin yang terbukti efektif dan membunuh sekitar sepertiga dari mereka yang terinfeksi.

Pada hari Jumat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan risiko kesehatan masyarakat akibat virus di Republik Demokratik Kongo dari "tinggi" menjadi "sangat tinggi".

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga mengatakan bahwa risiko di wilayah Afrika yang lebih luas tinggi, tetapi tetap rendah secara global.

Negara tetangganya, Uganda, mengkonfirmasi tiga kasus baru pada hari Sabtu, sehingga total infeksinya menjadi lima kasus, sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika memperingatkan bahwa 10 negara lain di benua itu berisiko terkena wabah tersebut.

Laporan tersebut menyebutkan Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Kenya, Rwanda, Sudan Selatan, Tanzania, dan Zambia.

Sementara itu, DR Kongo menangguhkan semua penerbangan komersial dan pribadi ke dan dari Bunia - ibu kota provinsi Ituri, tempat sebagian besar kasus dan kematian dilaporkan - untuk mengekang "penyebaran lintas batas".

"Penerbangan kemanusiaan, medis, atau darurat hanya akan diizinkan setelah mendapat persetujuan khusus dari otoritas penerbangan dan kesehatan," kata kementerian transportasi negara itu dalam sebuah pernyataan.

Di tempat lain di provinsi tersebut, Médecins Sans Frontières (MSF) mengatakan sebuah tenda yang mereka berikan untuk membantu penanganan Ebola di Mongwalu telah dibakar pada hari Jumat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Nilam Butuh Terobosan, ARC USK Dorong SRG Jadi Solusi Tata Niaga
    Penerapan SRG nilam sangat krusial bagi sektor manufaktur ...
  • Impor Pelumas RI Tembus Ribuan Ton, Menperin Resmikan Pabrik Raksasa Shell, Libatkan 50 Vendor Lokal
    Kehadiran fasilitas produksi berkapasitas 12.000 ton per tahun ...
  • Pameran Fi Asia Indonesia 2026 Perluas Akses Industri terhadap Teknologi Pangan Global
    Ulasan yang sangat mencerahkan terutama pada pandangan Dr. ...
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Advertisement
Menunggu Giant Sea Wall untuk Tawarkan Air Laut

Menunggu Giant Sea Wall untuk Tawarkan Air Laut

18 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.