Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dari Sepotong Tahu, Komunitas Ini Belajar tentang Konsistensi, Kualitas, dan Bisnis Lintas Generasi

📅 Jumat, 18 Sep 2026, 09:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Dari Sepotong Tahu, Komunitas Ini Belajar tentang Konsistensi, Kualitas, dan Bisnis Lintas Generasi Doc: IST
Ket. Komunitas wirausaha berkunjung ke Tahu Yun-Yi / Kims di Bogor untuk melihat lebih dekat bagaimana sebuah produk sederhana seperti tahu dapat tumbuh menjadi bisnis yang bertahan lintas generasi.

BOGOR – Komunitas Billionaire Mindset Indonesia bersama berbagai komunitas kolaborator mengadakan kegiatan belajar bisnis langsung dari para pelaku usaha sukses.

Kali ini, komunitas berkunjung ke Tahu Yun-Yi / Kims di Jalan Raya Salabenda No.11, Bogor, untuk melihat lebih dekat bagaimana sebuah produk sederhana seperti tahu dapat tumbuh menjadi bisnis yang bertahan lintas generasi.

Acara berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Peserta hadir dari berbagai wilayah, mulai dari Depok, Bogor, Jakarta, Tangerang, hingga daerah sekitarnya. Mereka datang bukan hanya untuk melihat proses produksi tahu, tetapi belajar tentang sejarah usaha, menjaga kualitas produk, membangun kepercayaan pasar, serta memahami bagaimana bisnis makanan dapat berkembang dari generasi ke generasi.

Dion menceritakan perjalanan panjang Tahu Yun-Yi, mulai dari sejak awal didirikan pada tahun 1940 oleh Liauw Hon Tjan di Bandung, hingga perkembangannya sampai generasi ketiga, yaitu Theo. Cerita ini menjadi pengingat bahwa usaha besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang mewah, tetapi dari kesederhanaan, ketekunan, kualitas, dan komitmen yang dijaga terus-menerus.

Tahu Yun-Yi dikenal sebagai salah satu usaha tahu legendaris yang telah melewati perjalanan panjang. Pada awalnya, produksi dilakukan dengan peralatan sederhana dan proses kerja yang dimulai sejak dini hari.

Produk tahu yang kelihatannya sederhana ternyata menyimpan proses yang tidak mudah yaitu pemilihan kedelai, menjaga kebersihan produksi, mengatur kualitas, memastikan kesegaran produk, hingga menjaga rantai distribusi agar tahu tetap layak diterima oleh konsumen.

“Nama Yun-Yi berasal dari Bahasa Mandarin, yang dimaknai sebagai harapan agar usaha ini selalu membawa manfaat dan keberuntungan bagi masyarakat,” ungkap Dion.

Filosofi ini sejalan dengan perjalanan usahanya, karena produk yang dihasilkan bukan hanya menjadi makanan sehari-hari, tetapi juga membuka lapangan kerja, mendukung pelaku usaha kuliner, dan menjadi bagian dari rantai ekonomi masyarakat.

Dari pasar tradisional, pedagang keliling, hingga masuk ke pasar modern, perjalanan Tahu Yun-Yi menunjukkan bahwa bisnis makanan bisa terus hidup apabila mampu menjaga kualitas dan kepercayaan. Produk Tahu Yun-Yi / Kims juga dikenal melayani berbagai kebutuhan, mulai dari konsumen rumah tangga, usaha kecil, restoran, katering, hingga kebutuhan B2B yang lebih besar.

Salah satu hal menarik yang dipelajari peserta adalah pentingnya standar dalam bisnis makanan. Tahu adalah produk fresh yang harus dijaga suhunya dan tidak bisa diperlakukan sembarangan. Dari sini peserta belajar bahwa bisnis kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal higienitas, keamanan pangan, penyimpanan, distribusi, dan konsistensi.

Dengan sangat jelas dan terbuka, Dion menjawab berbagai pertanyaan seputar sejarah usaha, proses produksi, tantangan bisnis tahu, pengelolaan kualitas, hingga bagaimana menjaga keberlanjutan usaha keluarga.

“Acara seperti ini sangat bermanfaat. Selain menambah ilmu, juga menambah perkenalan,” ujar Ibu Susi, peserta dari Gading Serpong. Menurutnya, kegiatan belajar langsung dari tempat usaha memberikan pengalaman yang berbeda karena peserta dapat melihat kenyataan bisnis secara lebih dekat.

Antusiasme peserta juga terlihat dari kehadiran satu keluarga dari Green Lake. Holi Sie bersama suami tercinta Ivan dan kedua anaknya, Claire dan Conrad, datang paling pagi. “Beliau sudah datang di banyak event dan sangat senang belajar serta praktik,” ujar Yossa Setiadi, Ketua Acara sekaligus Ketua Umum Billionaire Mindset Indonesia.

Bagi sebagian peserta, perjalanan menuju lokasi juga menjadi pengalaman tersendiri. “Ini adalah pengalaman pertama kali naik kereta ke Bogor, dan seru sekali,” ucap Setiawan Djohan. Hal sederhana seperti perjalanan bersama, naik transportasi umum, dan berjalan menuju lokasi justru membuat acara terasa semakin dekat dan penuh kebersamaan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Nilam Butuh Terobosan, ARC USK Dorong SRG Jadi Solusi Tata Niaga
    Penerapan SRG nilam sangat krusial bagi sektor manufaktur ...
  • Impor Pelumas RI Tembus Ribuan Ton, Menperin Resmikan Pabrik Raksasa Shell, Libatkan 50 Vendor Lokal
    Kehadiran fasilitas produksi berkapasitas 12.000 ton per tahun ...
  • Pameran Fi Asia Indonesia 2026 Perluas Akses Industri terhadap Teknologi Pangan Global
    Ulasan yang sangat mencerahkan terutama pada pandangan Dr. ...
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Luar Negeri
AS Izinkan Delegasi Iran Ha...
Advertisement
Menunggu Giant Sea Wall untuk Tawarkan Air Laut

Menunggu Giant Sea Wall untuk Tawarkan Air Laut

18 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.