Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mayoritas Pejabat The Fed Mendukung Kenaikan Suku Bunga

📅 Jumat, 22 Mei 2026, 01:05 WIB | Oleh:
Mayoritas Pejabat The Fed Mendukung Kenaikan Suku Bunga Doc: Annabelle GORDON/AFP
Ket. Gedung Federal Reserve di Washington DC, AS.

WASHINGTON - Sebagian besar pengambil kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve mengindikasikan kemungkinan menaikkan suku bunga jika inflasi terus-menerus berada di atas target otoritas moneter itu yakni 2 persen. 

Demikian terungkap dalam risalah pertemuan terakhir Komite Pasar Terbuka Federal Reserve atau Fed's Open Market Committee (FOMC) yang dirilis pada hari Rabu (21/5). Dalam pertemuan Dewan Gubernur The Fed akhir bulan lalu, mereka memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil.

Namun, empat dari 12 Gubernur Bank Sentral pada pemungutan suara menentang hasil tersebut atau perbedaan pendapat terbesar sejak tahun 1992. Tiga Gubernur The Fed regional yakni Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan mendukung penangguhan kenaikan suku bunga tetapi tidak mendukung bahasa dalam pernyataan Fed yang mengisyaratkan kecenderungan untuk memangkas suku bunga.

Sedangkan satu anggota Gubernur Fed yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Stephen Miran, memberikan suara untuk penurunan suku bunga.

Perpecahan di dalam Federal Reserve akan menjadi tantangan utama bagi ketua baru Kevin Warsh, yang akan dilantik minggu ini di Gedung Putih, karena dia sendiri telah mendukung pemotongan suku bunga dalam beberapa waktu terakhir.

“Dalam membahas pertimbangan manajemen risiko yang memengaruhi prospek kebijakan moneter, para peserta menilai bahwa risiko kenaikan inflasi dan risiko penurunan lapangan kerja tetap tinggi,” demikian bunyi notulen tersebut.

Mandat Ganda

Bank Sentral AS (Fed) memiliki mandat ganda, yaitu menjaga inflasi pada target jangka panjang dua persen sekaligus memastikan lapangan kerja maksimal di ekonomi terbesar di dunia.

Rumah tangga di AS telah terpukul oleh inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan sejak pandemi, dengan inflasi konsumen mencapai puncaknya sebesar 9,1 persen pada pertengahan tahun 2022.

Bulan lalu, angka tersebut mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, yaitu 3,8 persen, yang dipicu oleh dampak ekonomi dari perang Presiden AS Donald Trump terhadap Iran, yang menyebabkan harga energi melonjak akibat tindakan balasan Teheran.

Sedangkan, tingkat pengangguran di AS relatif stabil selama setahun terakhir, tetapi pertumbuhan lapangan kerja berfluktuasi antara ekspansi dan kontraksi, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang kelemahan pasar tenaga kerja.

Beberapa peserta pertemuan menyatakan keprihatinan atas kemungkinan konflik jangka panjang di Iran yang menyebabkan lonjakan harga energi yang berkelanjutan, yang berpotensi menciptakan pertukaran yang lebih besar antara tujuan lapangan kerja dan inflasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Merugi, Pemkab Kudus Serahkan Pengelolaan Taman Krida Wisata ke Swasta
    Preview komentar:
    Pemberian masa tenggang atau grace period selama tiga ...
  • Berpotensi Melemah Terbatas, 13 Agustus 2026
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai pergerakan Rupiah hari ...
  • Microchip Perbarui Ethernet Sensor Bridge untuk Perkuat Konektivitas Edge AI
    Preview komentar:
    Penyusutan dimensi perangkat hingga 60 persen yang dipadukan ...
Advertisement
injourney
Advertisement
asd
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Nasional
Mentan Ultimatum Importir P...
Olahraga
Xavi Hernandez Resmi Jadi P...
Nasional
KPK Segera Dalami Dugaan Ko...
Megapolitan
Polres Bekasi Kota Berhasil...
Daerah
Pemkot Bandung dan PNM Duku...
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Dirut Telkom Dikabarkan Penuhi Panggilan SEC dalam Bayang-Bayang Dugaan Fraud Rp5 Triliun

Dirut Telkom Dikabarkan Penuhi Panggilan SEC dalam Bayang-Bayang Dugaan Fraud Rp5 Triliun

13 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.