Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dinkes Tangerang Tingkatkan Kewaspadaan di Faskes Terkait Hantavirus

📅 Rabu, 13 Mei 2026, 10:39 WIB | Oleh: Tim Penulis
Dinkes Tangerang Tingkatkan Kewaspadaan di Faskes Terkait Hantavirus Doc: ANTARA
Ket. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni.

TANGERANG – Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Banten meningkatkan kewaspadaan di tingkat fasilitas kesehatan dalam merespon cepat kesehatan masyarakat yang usai perjalanan dari luar negeri antisipasi penyebaran Hantavirus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, di Tangerang, Rabu (13/5), mengatakan pihaknya sudah mensosialisasikan panduan pencegahan penyebaran Hantavirus yang bisa ditularkan melalui kotoran, hingga air liur hewan pengerat seperti tikus.

Ia menjelaskan gejala Hantavirus bisa dilihat dalam satu hingga delapan pekan setelah terkena paparan yang diawali dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, sampai tubuh lemas yang dapat menyebabkan kondisi kesehatan terganggu mulai dari sesak napas hingga gagal ginjal.

"Hantavirus dianggap sangat berbahaya karena dapat menginveksi saluran pernapasan sampai ginjal manusia," kata Dini.

Pemerintah Kota Tangerang juga mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus.

Adapun untuk pecegahannya yakni kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus yang bisa menjadi titik awal penyebaran virus yang membahayakan.

"Pemkot Tangerang menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat seperti tikus sebagai langkah pencegahan pertama penyebaran virus Hanta di lingkungan masing-masing," ujarnya.

Sebelumnya Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memastikan 23 kasus Hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejak 2023 merupakan varian ringan, dan tidak memiliki tingkat fatalitas mematikan seperti yang ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius.

Wamenkes menjelaskan dari dua varian Hantavirus yang ada di dunia, Indonesia hanya mendeteksi jenis "Hanta Fever Renal Syndrome" dengan tingkat kematian rendah, yakni sekitar 15 persen, jauh di bawah varian "Pulmonary Syndrome" yang fatalitasnya mencapai 60-80 persen.

"Di Indonesia sudah ketemu 23 kasus dari tahun 2023, tapi semuanya adalah 'Hanta Fever Renal Syndrome' yang ringan. Kalau Hantavirus yang kayak ditemukan di kapal pesiar itu, di Indonesia belum masuk," ujar Dante.

Ia memaparkan bahwa pola penularan virus ini serupa dengan leptospirosis, yakni melalui perantara hewan pengerat seperti tikus, terutama pada kondisi lingkungan pascabanjir dengan sanitasi buruk.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
Luar Negeri
Resmi Masuk DK PBB, Kirgist...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.