Legislator: Jangan Remehkan Ancaman Hantavirus, Terapkan One Health System!
📅 Senin, 11 Mei 2026, 15:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: DPR RI
JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus setelah terjadi wabah di kapal pesiar MV Hondius.
Kasus terbaru menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memantau wabah hantavirus strain Andes di kapal pesiar yang berlayar dari Argentina. Tiga orang meninggal dan ada pula kasus suspek. Dua warga Singapura yang sempat berada di kapal tersebut dinyatakan negatif hantavirus setelah menjalani pemeriksaan dan karantina ketat.
Namun WHO tetap melakukan pelacakan lintas negara karena strain Andes merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antar-manusia.
“Peristiwa di kapal MV Hondius harus menjadi alarm bagi seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman jauh atau penyakit langka yang tidak relevan bagi Indonesia,” kata Edy melalui rilis yang disiarkan media DPR RI, Minggu (10/5).
Menurut Edy, Indonesia memiliki faktor risiko yang cukup besar karena kepadatan penduduk, urbanisasi cepat, persoalan sanitasi lingkungan, dan tingginya populasi tikus di kawasan permukiman.
Sebaiknya Anda baca juga:
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan dalam tiga tahun terakhir Indonesia mencatat sedikitnya 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus dengan manifestasi Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia dengan riwayat penyakit penyerta seperti kanker hati dan kegagalan multi organ.
“Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan sekadar ancaman teoritis. Virusnya sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata. Persoalannya, penyakit ini sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip demam berdarah, tifus, atau leptospirosis,” ujar Edy.
Sebaiknya Anda baca juga:
Memang ada perbedaan antara Andes dengan Seoul Virus yang ditemukan di Indonesia. Andes virus diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi berat yang menyerang paru-paru dan memicu sesak nafas akut hingga gagal nafas. Virus ini memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi dan menjadi satu-satunya jenis hantavirus yang sejauh ini diketahui dapat menular antar-manusia.
Secara umum, hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis), terutama melalui tikus sebagai agen infeksius utama virus. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi partikel urin, feses, atau air liur tikus.
“Masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang penuh kotoran tikus tanpa perlindungan dapat menjadi jalur penularan. Ini yang harus diedukasi secara serius,” katanya.
Edy menilai hantavirus menjadi ancaman yang sering luput dari perhatian karena tidak selalu menimbulkan pandemi. Padahal, ada jenis hantavirus memiliki tingkat kematian cukup tinggi, terutama Andes virus yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat.
“Justru karena sifatnya silent threat, kita tidak boleh lengah. Dunia sudah belajar dari pandemi bahwa ancaman kesehatan sering datang dari hal-hal yang awalnya dianggap kecil,” kata Politikus PDI Perjuangan itu.
WHO telah mengingatkan kemungkinan munculnya kasus tambahan terkait wabah di MV Hondius mengingat masa inkubasi virus dapat berlangsung hingga lebih dari dua minggu. Sejumlah negara kini memperketat pemantauan terhadap penumpang yang sempat berada di kapal tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!