Gen Z Kampus Disasar, Wamendag Pacu Rasio Kewirausahaan Indonesia
📅 Rabu, 29 Apr 2026, 17:05 WIB | Oleh: Tim PenulisSURABAYA – Peningkatan rasio kewirausahaan merupakan indikator penting dalam memperkuat struktur ekonomi yang lebih resilien dan inklusif.
Rasio yang tinggi mencerminkan bertambahnya pelaku usaha produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi, serta memperluas basis ekonomi di luar sektor formal yang terbatas.
Secara struktural, upaya meningkatkan rasio ini tidak cukup hanya melalui dorongan semangat berwirausaha, tetapi juga membutuhkan ekosistem yang kondusif.
Akses terhadap pembiayaan, kemudahan perizinan, pendampingan bisnis, hingga literasi digital menjadi faktor kunci yang menentukan keberhasilan usaha baru untuk bertahan dan berkembang. Tanpa dukungan tersebut, banyak usaha rintisan berisiko stagnan atau bahkan gagal di tahap awal.
Di sisi lain, peningkatan rasio kewirausahaan juga harus diiringi dengan peningkatan kualitas usaha. Fokus tidak hanya pada jumlah pelaku, tetapi juga pada skala, produktivitas, dan daya saing.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan demikian, kebijakan yang tepat akan mampu mendorong transformasi dari sekadar wirausaha subsisten menjadi wirausaha yang berorientasi pertumbuhan dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti mendorong mahasiswa meningkatkan rasio kewirausahaan Indonesia melalui pendidikan dan penguatan jiwa entrepreneurship guna mengejar ketertinggalan dibanding negara lain serta memperluas kontribusi generasi muda bagi ekonomi nasional.
“Maka masih banyak yang harus kita upayakan agar rasio entrepreneur Indonesia terus meningkat,” ujarnya di Universitas Ciputra (UC) Surabaya, Rabu (29/4).
Sebaiknya Anda baca juga:
Dyah menyebut, rasio kewirausahaan Indonesia saat ini baru mencapai 3,29 persen dari total angkatan kerja atau sekitar 4,9 juta entrepreneur. Angka itu masih di bawah Malaysia 4,74 persen, Singapura 8,76 persen, dan Amerika Serikat 12 persen.
Menurutnya, entrepreneurship memiliki beragam bentuk, mulai dari investor waralaba hingga pencipta bisnis baru berbasis ide dan passion. Karena itu, mahasiswa diminta memanfaatkan masa kuliah sebagai momentum refleksi diri dalam menentukan arah hidup dan kontribusi bagi bangsa.
“Use this moment as a self reflection moment for you. Tentukan apa yang ingin kalian lakukan, capai, dan perubahan apa yang ingin kalian hadirkan untuk Indonesia,” tuturnya.
Ia menjelaskan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memiliki tiga program utama, yakni pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar luar negeri, serta mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ekspor dari lokal ke global.
Program business matching telah mempertemukan ratusan UMKM dengan ritel modern seperti Alfamart, Indomaret, IKEA, hingga Metro Department Store.
“Kami ingin memastikan pemerintah hadir untuk membantu dan memfasilitasi pelaku usaha agar bisa berkembang,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!