Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kenali Penyakit Ginjal Kronis Sejak Dini agar Tak Berakhir Gagal Ginjal

📅 Sabtu, 25 Apr 2026, 21:05 WIB | Oleh:
Kenali Penyakit Ginjal Kronis Sejak Dini agar Tak Berakhir Gagal Ginjal Doc: RSPI
Ket. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal Hipertensi RS Pondok Indah – Pondok Indah, Prof. dr. Aida Lydia, Ph.D, Sp.PD, Subsp.GH(K). Ia menerangkan penyakit ginjal kronis sering tanpa gejala pada tahap awal dan dapat berujung gagal ginjal. Kenali penyebab, gejala, serta cara mencegahnya sejak dini.

JAKARTA– Penyakit ginjal kronis (PGK) menjadi salah satu gangguan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius karena berkembang perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Banyak penderita baru mengetahui kondisinya ketika fungsi ginjal sudah menurun drastis dan memasuki stadium lanjut.

Penyakit ginjal kronis merupakan gangguan pada ginjal yang berlangsung dalam jangka panjang dan menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara bertahap. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal, yakni saat organ tersebut tidak lagi mampu menjalankan tugas utamanya secara optimal.

Ginjal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Organ ini berfungsi menyaring darah, membuang limbah metabolisme melalui urine, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, serta membantu mengatur tekanan darah. Selain itu, ginjal juga berperan dalam pembentukan sel darah merah dan menjaga kesehatan tulang melalui produksi hormon tertentu.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal Hipertensi RS Pondok Indah – Pondok Indah, Prof. dr. Aida Lydia, Ph.D, Sp.PD, Subsp.GH(K), menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronis dibagi menjadi lima stadium berdasarkan tingkat keparahan. Stadium kelima merupakan tahap akhir yang dikenal sebagai End-Stage Renal Disease (ESRD) atau gagal ginjal.

“Pada tahap ini, ginjal tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara optimal, seperti menyaring darah, membuang limbah metabolisme, serta menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, dan keasaman darah,” ujarnya melalui siaran pers pada hari Kamis (23/4).

Pada tahap tersebut, ginjal tidak lagi mampu menyaring racun dan cairan berlebih dari tubuh. Akibatnya, limbah metabolisme menumpuk dan memicu berbagai komplikasi serius. Dalam kondisi seperti ini, pasien umumnya membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal seperti hemodialisis, dialisis peritoneal berkelanjutan atau CAPD, maupun transplantasi ginjal.

Prof. Aida menjelaskan, istilah “cuci darah” yang umum digunakan masyarakat sebenarnya kurang tepat. Istilah medis yang benar adalah hemodialisis, yakni prosedur yang membantu menyaring limbah dan cairan berlebih dari tubuh menggunakan mesin.

“Pemahaman yang kurang tepat sering kali menimbulkan rasa takut berlebihan, sehingga sebagian pasien menunda pengobatan yang sebenarnya sangat dibutuhkan,” terangnya.

Penyebab penyakit ginjal kronis sangat beragam, tetapi dua faktor utama yang paling sering ditemukan adalah diabetes dan hipertensi. Pada penderita diabetes, kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal yang berfungsi sebagai penyaring. Kerusakan ini menyebabkan fungsi ginjal menurun secara perlahan.

Salah satu tanda awal kerusakan ginjal akibat diabetes adalah munculnya protein dalam urine atau proteinuria. Kondisi ini sering ditandai dengan urine berbusa, meskipun tidak selalu disadari oleh penderita.

Sementara itu, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol juga dapat merusak pembuluh darah ginjal. Jika berlangsung lama, hipertensi bukan hanya mengganggu fungsi ginjal, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

“Hubungan antara jantung dan ginjal sangat erat, di mana gangguan pada salah satu organ dapat memengaruhi fungsi organ lainnya,” tambah Prof. Aida.

Selain diabetes dan hipertensi, penyakit ginjal kronis juga dapat dipicu radang ginjal, infeksi ginjal berulang, sumbatan saluran kemih akibat batu ginjal atau pembesaran prostat, penyakit autoimun seperti lupus, serta konsumsi obat-obatan tertentu yang bersifat toksik terhadap ginjal. Risiko juga meningkat pada penderita obesitas, kolesterol tinggi, usia lanjut, riwayat keluarga penyakit ginjal, hingga kelainan bawaan seperti ginjal polikistik.

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit ini adalah gejalanya yang sering tidak terasa pada tahap awal. Banyak pasien baru datang berobat saat kondisi sudah berat. Ketika fungsi ginjal semakin menurun, penderita bisa mengalami pembengkakan pada kaki, tangan, atau wajah akibat penumpukan cairan. Cairan yang menumpuk di paru-paru juga dapat menimbulkan sesak napas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Mantan Wamenaker Noel Divon...
Luar Negeri
Diserang Rudal Iran, Bandar...
Luar Negeri
Warga Singapura Makin Panja...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.