Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pasar Global Dikuasai Kompetitor, RI Kalah Lincah

📅 Kamis, 23 Apr 2026, 23:59 WIB | Oleh: Tim Redaksi

“Orang akan melihat tempat lain. Lihat apa yang terjadi di Vietnam. Padahal baru kemarin kita sama-sama tahu Vietnam itu bagaimana, dan kapan dia membangun,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti kurangnya informasi yang lengkap dan terbarui mengenai peluang yang ada di Indonesia sebagai faktor penghambat lainnya.

Masih Menarik

Setyono Djuandi Darmono selaku founder and chairman PT Jababeka Tbk ketika ditanyai kenapa Silk Road Group Ltd, perusahaan multinasional masih tertarik datang ke Indonesia, menjelaskan RI memang masih memiliki daya tarik sendiri di pasar global.

Hal itu dipaparkannya merespon Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang kerap disebut salah satu tertinggi di ASEAN l. Menurutnya, membandingkan ICOR Indonesia dengan negara kecil seperti Singapura atau Thailand tidak sebanding.

“ICOR kita jangan dihitung untuk seluruh Indonesia. Enggak sebanding dong, ICOR 8 juta kilometer persegi dibanding ICOR 500-600 kilometer persegi. Ya pasti beda,” ujar Darmono.

Ia menjelaskan, Singapura hanya seluas 600 kilometer persegi, sementara Indonesia mencapai 8 juta kilometer persegi termasuk wilayah laut. Kondisi geografis yang terdiri dari ribuan pulau, keberagaman etnis, serta tantangan pendidikan membuat pembangunan Indonesia membutuhkan waktu dan pendekatan berbeda.

“Untuk itu membangun Indonesia kita mesti sabar. Karena terkunci banyak etnis, bedanya satu dengan lain, masalah pendidikan, pemahaman,” katanya.

Darmono mencontohkan pembangunan kawasan industri Cikarang sebagai solusi. Ia menyebut Cikarang dibangun dengan meniru keunggulan Singapura, yaitu kepastian hukum, keamanan, dan infrastruktur lengkap. Ketiga faktor itu ia sebut sebagai rumus dasar: certainty of law, security, and convenience.

“Cikarang mulai dari 500 hektar saja. ICOR-nya coba dihitung, lebih tinggi dari Singapura! 500 hektar kita jual dalam 3 tahun. Sekarang sudah 5.600 hektar dan mempengaruhi seluruh Bekasi, bahkan Indonesia,” jelasnya.

Kini kawasan itu berkembang mendekati 200 kilometer persegi, hampir setengah luas Jakarta. Darmono membandingkannya dengan Shenzhen yang berkembang cepat karena konsepnya serupa dengan Batam.

Ia menegaskan ICOR hanya satu dari banyak indeks. Indikator lain seperti peningkatan melek huruf dan jumlah universitas juga perlu dilihat.

“2% penduduk kita tahun ’45 yang bisa bahasa Indonesia, hari ini semua bisa. Itu pakai ICOR ngitungnya? Bukan ICOR. Jadi kita jangan terperosok cuma satu parameter,” tegasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Luar Negeri
Kenapa Negara Ini Kecam Uji...
Daerah
Kobaran Api Meluas, Karhutl...

Mau Tujuh Belasan di Istana? Segera Daftarkan Diri

Mau Tujuh Belasan di Istana? Segera Daftarkan Diri

05 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.