Alat Pembaca Pikiran Bantu Komunikasi Pasien Lumpuh
📅 Rabu, 08 Apr 2026, 07:08 WIB | Oleh: Haryo BronoPARA ilmuwan mengembangkan teknologi antarmuka otak-komputer (brain-computer interface/BCI) yang mampu menerjemahkan “bicara batin” atau ucapan dalam pikiran menjadi kata-kata. Inovasi ini membuka peluang baru bagi pasien dengan gangguan bicara akibat kelumpuhan untuk kembali berkomunikasi secara lebih cepat dan alami.
Penelitian ini dipimpin oleh Asisten Profesor Bedah Saraf Frank Willett dari Stanford University bersama tim lintas institusi, dan dipublikasikan dalam jurnal Cell pada 14 Agustus. Studi tersebut melibatkan peneliti dari sejumlah universitas, termasuk Emory, Georgia Tech, UC Davis, Brown, dan Harvard Medical School.
Teknologi BCI bekerja dengan memanfaatkan susunan mikroelektroda berukuran sangat kecil yang ditanamkan di permukaan otak, tepatnya di area korteks motorik yang mengatur gerakan, termasuk gerakan otot yang menghasilkan ucapan. Perangkat ini merekam aktivitas saraf dan mengirimkannya ke komputer untuk diterjemahkan menjadi kata atau perintah.
Untuk mengubah sinyal otak menjadi bahasa, para peneliti menggunakan algoritma pembelajaran mesin yang dilatih untuk mengenali pola aktivitas saraf yang berkaitan dengan fonem, yaitu unit terkecil dalam ucapan. Fonem-fonem ini kemudian dirangkai menjadi kata dan kalimat.
Sebelumnya, teknologi BCI telah berhasil menerjemahkan sinyal otak dari upaya berbicara menjadi kata-kata dengan tingkat akurasi tinggi, meskipun pasien tidak mampu menggerakkan otot bicara secara fisik. Namun, dalam penelitian terbaru, ilmuwan melangkah lebih jauh dengan meneliti kemampuan sistem dalam mendekode “bicara batin” yang tidak diucapkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas bicara batin menghasilkan pola sinyal yang jelas di otak, meskipun lebih lemah dibandingkan dengan sinyal dari upaya berbicara. Meski tingkat akurasinya masih di bawah metode sebelumnya, temuan ini dinilai sebagai bukti awal bahwa komunikasi berbasis pikiran murni berpotensi diwujudkan.
“Temuan ini memberi harapan bahwa di masa depan, pasien dengan kelumpuhan dapat berkomunikasi dengan lebih lancar, cepat, dan nyaman hanya melalui pikiran,” ujar Willett.
Meski menjanjikan, pengembangan teknologi ini juga memunculkan tantangan, terutama terkait privasi. Para peneliti mengakui adanya potensi sistem secara tidak sengaja “membaca” pikiran yang tidak dimaksudkan untuk dikomunikasikan.
Untuk mengatasi hal tersebut, tim peneliti mengembangkan sejumlah mekanisme pengamanan. Salah satunya adalah sistem berbasis “kata sandi mental” yang mengharuskan pengguna membayangkan frasa tertentu sebelum sistem dapat menerjemahkan pikiran menjadi kata. Selain itu, sistem juga dilatih untuk mengabaikan sinyal yang berasal dari bicara batin yang tidak disengaja.
Para peneliti menekankan bahwa teknologi BCI implan masih berada pada tahap awal pengembangan dan belum tersedia secara luas. Penggunaannya juga berada di bawah pengawasan ketat untuk memastikan standar etika medis tetap terjaga.
Ke depan, pengembangan perangkat keras yang lebih canggih diharapkan dapat meningkatkan jumlah neuron yang dapat direkam, sekaligus memungkinkan sistem menjadi lebih akurat dan mudah digunakan. Peneliti juga berencana mengeksplorasi area otak lain yang berperan dalam bahasa dan pendengaran untuk meningkatkan kualitas decoding.
Dengan berbagai pengembangan tersebut, teknologi BCI dinilai memiliki potensi besar dalam merevolusi cara manusia berkomunikasi, khususnya bagi mereka yang kehilangan kemampuan berbicara akibat kondisi medis.
Perlu dicatat bahwa BCI yang ditanamkan belum menjadi teknologi yang tersedia secara luas dan masih dalam tahap awal penelitian dan pengujian. Teknologi ini juga diatur oleh pemerintah federal dan lembaga lainnya untuk membantu menjunjung tinggi standar etika medis tertinggi. Apa saja beberapa langkah yang dapat mengatasi masalah privasi ini?
Untuk BCI generasi saat ini, yang dirancang untuk menerjemahkan aktivitas saraf yang dipicu oleh upaya untuk menghasilkan ucapan secara fisik, para peneliti mendemonstrasikan dalam penelitian mereka cara baru untuk melatih BCI agar lebih efektif mengabaikan ucapan batin, sehingga mencegahnya terdeteksi secara tidak sengaja oleh sistem.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!