Impor Makin Ditekan: Kementerian Pertanian Republik Indonesia Klaim 9 Komoditas Sudah Swasembada
📅 Jumat, 13 Feb 2026, 22:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Harianto
JAKARTA – Mewujudkan swasembada nasional, khususnya pangan, sejatinya bukan cuma soal mengejar angka produksi, tapi membangun ketahanan ekonomi dari hulu ke hilir.
Ketergantungan impor membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga global, gangguan logistik, hingga tekanan nilai tukar.
Karena itu, strategi yang didorong Kementerian Pertanian Republik Indonesia perlu dibaca sebagai upaya struktural: memperkuat produktivitas petani, memperbaiki sistem distribusi, sekaligus mendorong adopsi teknologi pertanian.
Jika ekosistem ini berjalan seimbang, swasembada bukan hanya menjaga stok pangan tetap aman, tapi juga menciptakan efek berganda—pendapatan petani naik, ekonomi desa bergerak, dan stabilitas harga lebih terjaga.
Pada akhirnya, pangan yang kuat adalah fondasi utama kemandirian nasional, bukan sekadar target tahunan di atas kertas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pada sembilan komoditas pangan strategis nasional, sebagai hasil peningkatan produksi hingga dukungan kebijakan pemerintah.
"Produksi kita tinggi, stok kita banyak. Yang swasembada pangan kita sudah sembilan (komoditi), yang belum ada tiga. Nah, yang tiga (komoditi) ini pun belum swasembada, tapi stoknya banyak," kata Amran saat meresmikan Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak Nasional yang dipusatkan di Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (13/2).
Dia menyebutkan berdasarkan neraca pangan hingga April 2026, Indonesia telah mencapai swasembada pada sembilan komoditas strategis dengan posisi surplus produksi yang kuat sebagai penyangga stabilitas pasokan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun komoditas pangan yang telah swasembada dan surplus meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Sementara itu, tiga komoditas lainnya yang saat ini belum mencapai swasembada meliputi bawang putih, kedelai, daging sapi/kerbau, dan gula industri. Pemerintah pun tengah berupaya meningkatkan produksi komoditas itu sehingga bisa menyusul swasembada demi kedaulatan pangan Indonesia secara menyeluruh.
Lebih lanjut, Amran mengatakan surplus produksi pangan yang mencapai swasembada menjadi bantalan kuat untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026.
Dengan begitu, pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman menjelang dan saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Tahun Baru Imlek, Hari Raya Nyepi hingga puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H.
Ia menegaskan kondisi stok yang melimpah menjadi dasar pemerintah memastikan harga pangan tetap terkendali. Karena itu, seluruh pelaku usaha diminta tidak menjual komoditas di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Mentan Amran, mencontohkan stok beras nasional saat ini tercatat tertinggi sepanjang sejarah. Ketersediaan daging dan komoditas protein hewani lainnya juga berada pada level aman, bahkan sebagian telah memasuki pasar ekspor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!