KKP Sebut Perairan Maluku Barat Daya Benteng Terakhir Biodiversitas Laut Dunia di Tengah Krisis Iklim
📅 Jumat, 06 Feb 2026, 03:30 WIB | Oleh: Tim PenulisEkspedisi itu juga menyoroti peran vital masyarakat adat Maluku Barat Daya yang masih memegang teguh prinsip keberlanjutan melalui kearifan lokal.
Di Pulau Romang dan Damer, ia mengatakan praktik Sasi serta larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu menjadi pilar utama yang menjaga keseimbangan ekosistem sejak zaman nenek moyang.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia Candhika Yusuf mengatakan hasil ekspedisi mampu menunjukkan bahwa Maluku Barat Daya memiliki pulau-pulau kecil yang dikelilingi perairan yang masih terjaga sejak zaman leluhur.
Ia mengatakan telah menyaksikan bagaimana terumbu karang di sana tetap sehat dan tangguh di saat banyak wilayah lain mengalami pemutihan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, terdapat habitat terbesar dugong. Namun, keajaiban itu sedang dipertaruhkan oleh ancaman nyata praktik penangkapan ikan yang merusak oleh pihak luar, serta tidak lepas dari isu sampah plastik dan ghost net.
"Kita harus berkolaborasi memperkuat pengawasan berbasis masyarakat melalui Pokmaswas agar kekayaan ini tidak hilang,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!