Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

113 Siswa Korban Keracunan MBG di Grobogan, Jateng Dirujuk ke Fasyankes

📅 Senin, 12 Jan 2026, 13:50 WIB | Oleh:
113 Siswa Korban Keracunan MBG di Grobogan, Jateng Dirujuk ke Fasyankes Doc: antara foto
Ket. Petugas melakukan investigasi atas MBG di Grobogan usai keracunan massal.

GROBOGAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mencatat 113 dari total 658 orang yang terdampak dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) dirujuk ke sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan Djatmiko di Grobogan, Senin (12/1), mengatakan rujukan terbanyak dilakukan ke RSUD Ki Ageng Getas Pendowo sebanyak 47 orang dan RSUD R Soedjati Purwodadi 29 orang.

Selain itu, sebanyak 12 orang dirujuk ke Puskesmas Karangrayung 1, tujuh orang ke Puskesmas Kedungjati, dan tiga orang ke Puskesmas Gubug 1.

Rujukan lainnya masing-masing ke RS Permata Bunda satu orang, Puskesmas Toroh 1 satu orang, Puskesmas Klambu enam orang, Puskesmas Grobogan satu orang, serta Puskesmas Godong lima orang.

"Tercatat pula dua pasien pulang atas permintaan sendiri dari RSUD Ki Ageng Getas Pendowo. Selain itu, dua pasien dari Puskesmas Toroh 1 dipindahkan ke RSUD Ki Ageng Getas Pendowo untuk penanganan lebih lanjut," ujarnya.

Dinas Kesehatan Grobogan mencatat ratusan warga, mayoritas siswa sekolah dasar hingga santri pondok pesantren, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Jumat (9/1). Makanan tersebut disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron.

Korban tersebar di sejumlah sekolah dan satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMK yang berlokasi di Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, dan Trisari.

"Total sementara ada 658 orang terdampak. Sebagian besar sudah ditangani, baik melalui rawat jalan maupun perawatan lanjutan," ujarnya.

Hingga Minggu (11/1) pagi, Dinkes Grobogan mencatat 79 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

"Data ini bersifat dinamis. Ada pasien yang sudah dipulangkan karena kondisinya membaik, namun juga ada potensi penambahan. Data akan kami perbarui setiap 12 jam," ujarnya.

Ia menambahkan, gejala yang paling banyak dialami para korban adalah mual dan muntah. Dugaan sementara, keluhan tersebut muncul setelah korban mengonsumsi MBG berupa nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek. Gejala mulai dirasakan sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi.

Selain penanganan medis, Dinas Kesehatan Grobogan juga melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) serta pengambilan sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium kesehatan guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Djatmiko mengingatkan seluruh penyedia layanan makanan, khususnya SPPG, agar mematuhi Standar Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS), termasuk ketepatan waktu distribusi makanan.

"Pemberian makanan tidak boleh molor. Jika terlalu lama, lebih dari empat jam, kualitas makanan dapat menurun dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Daerah
PMI Cianjur Pastikan Pendis...
Megapolitan
Terdampak Kekeringan, Pemka...
Advertisement
Barang Temuan di Selat Sunda Bukan Milik 5 Jurnalis Hilang, Ini Penjelasan Polda Banten

Barang Temuan di Selat Sunda Bukan Milik 5 Jurnalis Hilang, Ini Penjelasan Polda Banten

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.