Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mayoritas Penipuan Digital Berawal dari Lemahnya Verifikasi Identitas Digital

📅 Selasa, 16 Des 2025, 20:57 WIB | Oleh:
Mayoritas Penipuan Digital Berawal dari Lemahnya Verifikasi Identitas Digital Doc: Vida
Ket. Founder & Group CEO Vida, Niki Luhur acara Kumparan AI for Indonesia 2025 di Jakarta, beberapa waktu lalu. Vida menilai lemahnya verifikasi identitas digital menjadi celah utama, sehingga diperlukan standar keamanan berlapis untuk melindungi masyarakat di era teknologi generatif.

JAKARTA – Kasus penipuan digital terus meningkat dan bentuknya semakin canggih, mulai dari lewat akun palsu, foto hasil edit AI, hingga panggilan video deepfake, yang semakin sulit dibedakan dari aslinya. Menurut Vida, penyedia layanan identitas digital dan pencegahan penipuan terdepan di Indonesia, sebagian besar aksi penipuan ini bermula dari lemahnya verifikasi identitas secara digital.

Founder & Group CEO Vida, Niki Luhur, menjelaskan bahwa dalam tiga tahun terakhir kualitas konten manipulatif berkembang sangat cepat seiring kemajuan teknologi generatif. Jika pada 2023 manipulasi visual masih mudah dikenali, pada 2024 kualitasnya meningkat menjadi high quality deepfake.

Tahun ini, model seperti Stable Diffusion mampu menghasilkan gambar yang tampak seperti foto profesional. Bahkan, seseorang hanya membutuhkan rekaman suara selama 15 menit untuk membuat voice clone, atau satu prompt sederhana untuk membuat foto palsu yang tampak nyata. 

“Untuk bikin deepfake clone atau voice clone secara profesional, cuma perlu rekaman 15 menit. Dengan satu prompt, saya bisa bikin foto Anda di background mana pun, di konteks mana pun,” kata Niki dalam acara Kumparan AI for Indonesia 2025di Jakarta, beberapa waktu lalu yang disampaikan melalui siaran pers pada hari Selasa (16/12).

Niki menambahkan bahwa kasus deepfake sebagian besar berawal dari penggunaan virtual camera yang memanipulasi tampilan wajah saat proses verifikasi berlangsung. Jika sistem tidak mampu membedakan antara mana input asli dan manipulasi, identitas palsu dapat lolos dan digunakan untuk berbagai aktivitas penipuan. 

Niki lalu mencontohkan adanya kasus tentang fraud device farm yang terhubung dengan sekitar 48 juta rekening secara global dan kasus peretasan aset kripto sekitar 1,5 miliar dolar AS oleh kelompok peretas yang diduga didukung negara. Di berbagai negara, cybercrime bahkan telah menjadi sumber pendapatan bagi kelompok tertentu.

“Lima tahun lalu, hal seperti ini mungkin terdengar seperti episode di serial TV. Namun, sekarang ini nyata,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa fenomena ini menjadi momentum untuk memperbarui standar keamanan digital. Vida menilai banyak modus penipuan digital bermuara pada satu titik, yakni identitas yang tidak diverifikasi dengan kuat.

Vida mengembangkan teknologi verifikasi dan autentikasi yang menempatkan identitas sebagai fondasi kepercayaan di ruang digital. “Yang kita lihat sekarang, hampir semua masalah-masalah fraud sebenarnya muncul dari masalah identity,” jelas Niki.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Vida mengembangkan teknologi verifikasi berlapis yang bekerja sejak detik pertama foto diambil hingga data tersebut divalidasi. Vida memastikan proses verifikasi hanya dilakukan melalui kamera fisik dari perangkat pengguna, bukan hasil manipulasi software.

Setelah foto diambil, sistem akan mencocokkan wajah dan data identitas ke database kependudukan milik Dukcapil. Dengan kerja sama ini, wajah pengguna harus sesuai dengan data e-KTP yang tersimpan dalam sistem nasional, termasuk kecocokan NIK dan rekam identitas lainnya.

VIDA juga menggunakan sistem AI dan deep learning untuk mendeteksi berbagai anomali dalam proses verifikasi, seperti gerakan yang tidak natural, penggunaan emulator, pola yang menyerupai device farm, serta karakteristik visual manipulasi AI. Jika ditemukan kejanggalan, proses verifikasi otomatis dihentikan. Enkripsi berlapis diterapkan untuk menjaga data agar tidak dimodifikasi di tengah proses.

Sebagai penyelenggara sertifikat elektronik, Vida diaudit langsung oleh Komdigi dan mematuhi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP) serta standar internasional seperti WebTrust Audit. “Vida adalah penyelenggara sertifikat elektronik yang diaudit langsung oleh Komidigi. Kami mengikuti standar keamanan global seperti WebTrust Audit untuk memastikan semua proses dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab,” ujar Niki.

Ia menambahkan bahwa setiap teknologi AI yang dikembangkan Vida selalu berorientasi pada perlindungan pengguna. Tujuannya bukan mengeksploitasi data masyarakat, melainkan memberikan keamanan. Vida juga menekankan perlunya kolaborasi antara pemain industri, regulator, dan media untuk meningkatkan awareness dan memperkuat upaya melawan penipuan digital.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
G7 Akan Lepas 100 Juta Bare...

PBB akan Alokasikan Dana untuk 12 Krisis Kemanusiaan

58 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.