Berawal dari Kebutuhan Anak, UMKM Roti di Papua Tumbuh 135% dan Berdayakan Siswa SLB
📅 Jumat, 02 Okt 2026, 13:10 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Berawal dari keinginan menyediakan makanan yang sesuai bagi anak berkebutuhan khusus, Juli mengembangkan Bread is Home, usaha roti rumahan di Jayapura, Papua. Usaha yang dirintis sejak 2020 itu kini mencatat pertumbuhan produksi sekitar 135% sekaligus membuka peluang pemberdayaan bagi anak berkebutuhan khusus dan perempuan di lingkungan sekitarnya.
Bread is Home yang awalnya memproduksi sekitar 1.300 produk kini mampu menghasilkan 2.800–3.300 produk per bulan. Pemasarannya juga berkembang melalui kerja sama dengan sejumlah kafe lokal di Jayapura, yakni Embai Coffee and Roastery, Sandyakala, Meja Kopi, dan Hujan Sore.
Perjalanan Juli membangun usaha tersebut dimulai ketika ia pindah dari Jakarta ke Jayapura pada 2020 untuk mengikuti suaminya. Melihat harga produk oleh-oleh di Papua yang relatif tinggi, ia berinisiatif membuat alternatif yang lebih terjangkau dari dapur rumah dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, termasuk sagu.
Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut berkembang dari kebutuhan keluarga menjadi bisnis yang menjangkau konsumen lebih luas. Namun, keterbatasan skala usaha sempat membuat Juli kurang percaya diri untuk mengembangkan bisnisnya.
Perubahan mulai dirasakan setelah ia mengikuti SisBerdaya, program pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perempuan yang diselenggarakan DANA bersama Ant International Foundation.
Melalui program tersebut, Juli memperoleh pembelajaran mengenai public speaking, psikologi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung pengembangan usaha. Ia juga mendapatkan peluang kerja sama baru dengan pelaku usaha lokal, termasuk Meja Kopi.
“Dari satu kafe, akhirnya saya mulai membuka kerja sama dengan kafe-kafe lainnya,” ujar Juli melalui keterangannya pada hari Jumat (2/10).
Mengangkat Pangan Lokal Papua
Selain memperluas pemasaran, Bread is Home juga mengembangkan produk dengan mengangkat bahan pangan lokal Papua. Bersama suaminya, Juli mulai mengolah petatas atau ubi jalar menjadi roti dengan pendekatan modern yang dapat dinikmati sebagai camilan maupun oleh-oleh.
Pengembangan produk tersebut dilakukan untuk memperkenalkan bahan pangan lokal melalui bentuk olahan yang lebih beragam, sekaligus mempertahankan identitas daerah asalnya.
“Saya berpikir bagaimana bahan pangan lokal seperti petatas bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih modern, tetapi tetap punya identitas Papua,” kata Juli.
Pemanfaatan bahan lokal menjadi salah satu pendekatan Bread is Home dalam mengembangkan produknya. Bahan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Papua dapat diolah menjadi produk bakery yang memiliki peluang pemasaran lebih luas.
Di sisi lain, pertumbuhan usaha juga membuka ruang bagi Juli untuk menjalankan misi sosial yang berangkat dari pengalaman pribadinya membesarkan anak berkebutuhan khusus.
Membuka Kesempatan Belajar bagi Siswa SLB
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!