Trump Sebut Konflik Thailand– Kamboja Disepakati untuk Dihentikan
📅 Senin, 15 Des 2025, 01:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Jim Watson/AFP
Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada akhir pekan lalu mengatakan bahwa para pemimpin Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk menghentikan pertempuran yang kembali terjadi dan kembali pada perjanjian damai yang ia bantu mediasi.
Seperti dikutip dari Antara, Trump mengatakan bahwa percakapan yang sangat baik dengan Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul dan PM Kamboja Hun Manet menghasilkan terobosan tersebut.
“Mereka telah sepakat untuk menghentikan seluruh tembakan efektif mulai malam ini, dan kembali ke kesepakatan damai awal yang dibuat bersama saya dan mereka, dengan bantuan PM Malaysia yang hebat, Anwar Ibrahim,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, kemarin.
Trump menyampaikan bahwa bom pinggir jalan yang semula menewaskan dan melukai sejumlah tentara Thailand merupakan sebuah kecelakaan, namun Thailand tetap membalas dengan sangat keras.
“Kedua negara siap untuk perdamaian dan kelanjutan perdagangan dengan Amerika Serikat. Merupakan kehormatan bagi saya untuk bekerja sama dengan Anutin dan Hun dalam menyelesaikan situasi yang bisa berkembang menjadi perang besar,” tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bentrok di perbatasan antara Thailand dan Kamboja telah menyebabkan sekitar 700.000 orang mengungsi di kedua sisi perbatasan. Jumlah korban tewas juga meningkat menjadi 23 orang sejak Senin, menurut para pejabat dan media lokal.
Kedua negara menandatangani kesepakatan damai pada Oktober di Kuala Lumpur, di hadapan Donald Trump dan PM Malaysia Anwar Ibrahim. Namun, kesepakatan tersebut ditangguhkan setelah sejumlah tentara Thailand mengalami luka serius akibat ledakan ranjau darat di sebuah provinsi perbatasan.
Kedua negara bertetangga itu memiliki sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama dan berulang kali memicu bentrokan, termasuk pada Juli lalu, ketika sedikitnya 48 orang tewas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Darurat Militer
Terbaru, Thailand pada Minggu (14/12), memberlakukan darurat militer dan jam malam di sejumlah distrik di tengah meningkatnya ketegangan dengan Kamboja.
Harian lokal Khaosod melaporkan seorang prajurit Angkatan Darat (AD) Thailand tewas saat bertugas di dekat perbatasan akibat serangan roket BM-21 pada hari yang sama.
Juru bicara Kementerian Pertahanan (Kemhan) Thailand Surasant Kongsiri mengatakan jam malam diberlakukan di empat distrik di di Provinsi Trat dan pertempuran masih berlangsung di sepanjang perbatasan, menurut laporan Bangkok Post.
Status darurat militer memberikan kewenangan kepada aparat untuk menahan individu atau melakukan penggeledahan terhadap orang, kendaraan, atau bangunan yang dianggap menimbulkan ancaman keamanan.
Pasukan marinir Thailand berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah Ban Sam Lang dan Ban Nong Ree di Cham Rak, Muang, setelah pertempuran sengit dengan pasukan Kamboja, Thai PBS melaporkan.
Kepada media itu, Panglima Tertinggi AD Thailand Jenderal Chaiyapruek Duangprapat mengatakan bahwa tujuan utama mereka adalah memastikan "Kamboja tidak akan menjadi ancaman militer bagi Thailand dalam waktu yang lama."
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!