Konflik Thailand-Kamboja Kembali Membara, Upaya Mediasi Trump Sia-sia
📅 Sabtu, 13 Des 2025, 13:30 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: France24
JAKARTA - Pertempuran antara pasukan Thailand dan Kamboja berlanjut pada Sabtu (13/12) pagi, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kedua negara telah sepakat untuk gencatan senjata.
Seperti dilaporkan BBC, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan ia memberi tahu Trump bahwa gencatan senjata hanya akan mungkin terjadi setelah Kamboja menarik semua pasukannya dan membersihkan ranjau darat.
"Thailand akan terus melakukan aksi militer sampai kami merasa tidak ada lagi bahaya dan ancaman terhadap tanah dan rakyat kami. Saya ingin memperjelasnya. Tindakan kami pagi ini sudah berbicara," tulisnya di media sosial.
Penembakan terus berlanjut sepanjang malam saat pasukan Thailand berupaya merebut sejumlah titik strategis di sepanjang perbatasan.
Sedikitnya 21 orang tewas dalam pertempuran yang kembali berkobar dan 700.000 orang telah dievakuasi di kedua belah pihak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Trump sebelumnya mengklaim bahwa dia bisa menghentikan pertempuran antara pasukan Thailand dan Kamboja yang meletus pada hari Senin, hanya dengan mengangkat telepon.
Setelah berbicara dengan kedua perdana menteri pada Jumat (12/12) malam, ia menulis di media sosial bahwa kedua negara telah sepakat untuk "menghentikan penembakan mulai malam ini" dan kembali ke kesepakatan yang mereka tandatangani di hadapan presiden AS pada bulan Oktober.
"Kedua negara siap untuk perdamaian," tulisnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, Anutin mengatakan ia memberi tahu Trump bahwa Thailand bukanlah pihak agresor, dan Kamboja harus menunjukkan bahwa mereka telah menarik pasukannya dan membersihkan ranjau darat dari perbatasan sebelum gencatan senjata dimungkinkan.
"Mereka harus menunjukkannya kepada kami terlebih dahulu," katanya.
Tidak ada penyebutan tentang penggunaan tarif sebagai alat tawar-menawar untuk memaksa kedua pihak untuk menghentikan konflik, seperti yang terjadi pada bulan Juli.
Thailand telah memperingatkan AS agar tidak mengaitkan konflik tersebut dengan perdagangan.
Pada hari Sabtu, Kamboja melaporkan negara itu telah menjadi sasaran serangan udara Thailand lagi.
"Pada 13 Desember 2025, militer Thailand menggunakan dua jet tempur F-16 untuk menjatuhkan tujuh bom" ke sejumlah target, kata kementerian pertahanan Kamboja dalam sebuah unggahan di X.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!