Kongo Timur Makin Dikuasai Pemberontak M23 Meski Trump Klaim Perdamaian Sudah Tercapai
📅 Senin, 08 Des 2025, 20:15 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Reuters
JAKARTA - Kelompok pemberontak M23 terus memperluas kendali mereka di wilayah timur Republik Demokratik Kongo di tengah klaim Donald Trump bahwa perdamaian sudah tercapai. Kondisi ini menandakan jurang besar antara narasi politik internasional dan kenyataan brutal yang dialami warga di lapangan.
Pergerakan M23 yang semakin agresif dalam beberapa bulan terakhir membuat sejumlah kota strategis jatuh ke tangan mereka. Para ahli menyebut bahwa kelompok tersebut kini beroperasi seperti pemerintahan bayangan lengkap dengan struktur administrasi dan militer.
Banyak warga mengaku mereka hidup di bawah aturan yang semakin ketat dan tak punya pilihan selain mengikuti sistem yang diberlakukan M23. Sementara itu, pemerintah Kongo menegaskan bahwa kehadiran M23 merupakan ancaman serius bagi kedaulatan negara.
"Kami tidak melihat adanya perdamaian di sini, justru situasinya makin berat," kata seorang warga yang tinggal di dekat wilayah konflik.
Ia menambahkan bahwa pasukan pemerintah dianggap terlalu lemah untuk merebut kembali wilayah yang telah jatuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah Kongo juga menuding Rwanda memberikan dukungan militer dan logistik kepada M23, tuduhan yang kembali memicu gesekan diplomatik di kawasan. Rwanda menolak tuduhan tersebut dan menyebut bahwa masalah Kongo adalah persoalan internal yang harus diselesaikan domestik.
"Tuduhan itu tidak berdasar dan hanya memperkeruh situasi," ujar seorang pejabat Rwanda. Ia menegaskan bahwa Rwanda tidak mencari konfrontasi dan memilih fokus menjaga stabilitas dalam negeri.
Investigasi terbaru menemukan bahwa kontrol M23 meluas hingga ke sektor pertambangan yang menjadi sumber ekonomi vital di kawasan. Mereka disebut memanfaatkan sumber daya alam untuk membiayai operasi militer sekaligus memperkuat jaringan kekuasaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, militer Kongo menghadapi tantangan besar dalam upaya merebut kembali wilayah yang hilang. Minimnya peralatan modern, lemahnya koordinasi, dan rendahnya moral pasukan membuat upaya ofensif berjalan sangat lambat.
Komunitas internasional masih terpecah dalam menyikapi konflik yang terus memburuk tersebut. Sejumlah negara mendesak dialog, sementara lainnya menyarankan penambahan pasukan perdamaian untuk meredam kekerasan.
Di tengah semua itu, ribuan warga sipil terus mengungsi demi menghindari baku tembak yang tak kunjung berhenti. Banyak dari mereka terpaksa hidup di kamp pengungsian dengan kondisi serba kekurangan dan akses yang minim terhadap layanan dasar.
Situasi ini menantang klaim Trump yang menyebut bahwa ia telah membantu membawa perdamaian ke Kongo melalui negosiasi informal. Klaim tersebut dikritik banyak pihak karena tidak relevan dengan kondisi nyata yang justru menunjukkan eskalasi kekerasan.
Pejabat Kongo menyatakan bahwa perdamaian hanya bisa dicapai jika M23 ditarik mundur dan proses politik dilakukan tanpa tekanan bersenjata. Mereka menekankan bahwa stabilitas kawasan tidak boleh ditentukan oleh narasi politis yang tidak sesuai fakta lapangan.
Meski upaya diplomasi terus dilakukan, situasi di Kongo timur menunjukkan tanda-tanda konflik akan berlangsung lebih lama. Banyak pihak menilai bahwa tanpa intervensi komprehensif, M23 akan semakin mengakar dan membangun legitimasi de facto di wilayah yang mereka kuasai.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!