Basarnas: Bekerja 24 Jam Nonstop di Garda Terdepan Bencana
📅 Jumat, 05 Des 2025, 06:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiKami memastikan bahwa efisiensi tidak mengurangi kinerja, terutama dalam kegiatan yang berhubungan langsung dengan pelayanan pencarian dan pertolongan. Relaksasi anggaran kami arahkan untuk pengadaan dan pemeliharaan sarana prasarana, sistem komunikasi, serta teknologi informasi SAR.
Hingga November 2025, realisasi fisik anggaran Basarnas telah mencapai 79,04 persen. Kabasarnas menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga tingkat penyerapan anggaran agar tetap optimal dan berdampak nyata bagi peningkatan kesiapsiagaan dan kecepatan respon operasi.
Sepanjang Januari hingga November 2025, Basarnas telah melaksanakan 2.292 operasi SAR di seluruh Indonesia, dengan total 9.930 korban. Dari jumlah tersebut, 7.772 orang berhasil diselamatkan, 1.682 orang meninggal dunia, dan 476 orang masih dinyatakan hilang.
Angka ini menggambarkan kerja keras dan dedikasi seluruh personel Basarnas yang terus siaga di lapangan, menghadapi berbagai situasi darurat untuk menyelamatkan nyawa manusia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagaimana Basarnas menghadapi tahun 2026?
Tahun 2026, Basarnas merencanakan peningkatan anggaran sebesar Rp397,9 miliar. Dana tambahan ini akan diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan kualitas sarana dan prasarana, serta memodernisasi sistem komunikasi dan teknologi informasi.
Kami ingin memastikan seluruh unit SAR di daerah memiliki kemampuan dan peralatan yang memadai. Dengan dukungan sarana yang modern dan komunikasi yang kuat, setiap operasi dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kami menegaskan komitmen lembaga Basarnas untuk terus memperkuat profesionalisme, kapasitas sumber daya manusia, dan sinergi dengan berbagai pihak.
Beberapa waktu lalu ada kecelakaan di lembaga pendidikan. Bagaimana Basarnas melihat ini?
Masih kurangnya aspek keselamatan dalam bangunan pendidikan, contoh dalam hal ini pada kasus runtuhnya Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap keselamatan bangunan sekolah, banyak fasilitas pendidikan yang belum memiliki rencana mitigasi dan sistem evakuasi.
Sebagai upaya pencegahan, perlu adanya pembentukan unit siaga darurat di sekolah dan jalur evakuasi serta peta risiko di setiap bangunan sekolah.
Tragedi yang terjadi pada Pondok Pesantren Al-Khoziny menjadi momentum refleksi nasional dalam menegakkan standar konstruksi bangunan pendidikan yang aman bencana. (S-2)
Riwayat Hidup
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!