Perkuat Akses dan Kualitas Pendidikan Berkelanjutan, PSF Hadirkan Lokakarya Dampak Pendidikan Berbasis ESG
📅 Jumat, 03 Okt 2025, 15:23 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: PSF
JAKARTA – Putera Sampoerna Foundation (PSF) menegaskan komitmennya untuk mendorong transformasi pendidikan berkelanjutan. Langkah yang dilakukan dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan lokakarya (workshop) bernama Workshop on ESG-Driven Education Impact atau Lokakarya Dampak Pendidikan Berbasis ESG dengan tema “Driving Impactful and Sustainable Change Through Education with ESG.”
Melalui penerapan prinsip ESG, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperluas kolaborasi lintas sektor untuk menjawab tantangan ini dan memastikan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas akademik, tetapi juga membangun karakter generasi yang siap menghadapi masa depan.
“Peran pendidikan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor sangat penting dalam menjawab tantangan zaman. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas bangsa. Namun, kita masih menghadapi tantangan nyata, mulai dari akses hingga kualitas pembelajaran,” kata Senior Director Putera Sampoerna Foundation Elan, melalui keterangannya pada hari Jumat (3/10).
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menambahkan, pendidikan merupakan fondasi pembangunan berkelanjutan yang berperan strategis dalam menciptakan masyarakat berdaya saing serta membangun masa depan bangsa. Namun, tantangan masih hadir dalam bentuk keterbatasan akses, kualitas, serta kebutuhan transformasi digital.
ESG hadir sebagai solusi strategis untuk mengatasi kesenjangan pendidikan sekaligus mempersiapkan generasi muda agar adaptif, kompeten, dan siap menghadapi tantangan global. Meski memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan pendidikan, dalam praktiknya, masih banyak korporasi baik umum maupun swasta yang belum memahami penerapan ESG itu sendiri.
Head of Program Development and Guru Binar Putera Sampoerna Foundation Juliana menyampaikan, lokakarya tersebut diadakan dengan tujuan agar para ahli, pelaku industri dan korporasi, serta pelaku pendidikan dari latar belakang yang berbeda-beda bisa saling berbagi sekaligus memetakan apa yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk menciptakan transformasi pendidikan berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saya melihat bahwa tidak sedikit korporasi yang masih berpikiran secara segi finansial dan bukan segi dampaknya. Padahal, melihat dampak pada masyarakat dan lingkungan itu juga tidak kalah penting demi tercapai tujuan besar Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, Maria R. Nindita Radyati selaku Pendiri Institute for Sustainability and Agility (ISA), menegaskan bahwa ESG menjadi jembatan penting dalam memperkuat pendidikan sebagai salah satu agenda Sustainable Development Goals (SDGs) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pendidikan di zaman sekarang lebih berfokus pada pengembangan kemampuan sosial yang mencakup kolaborasi, berpikir kritis, memiliki nilai-nilai kemanusiaan, serta memecahkan masalah holistik.
“Sehingga generasi anak muda Indonesia saat ini bisa menjadi pembawa perubahan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih inklusif, tangguh, dan berdaya saing di kancah global. Oleh karenanya, penting bagi para guru untuk memiliki kompetensi-kompetensi ini,” katanya.
Maria menambahkan, selain memiliki kompetensi sosial, kompetensi hijau (green skills) juga sangat penting dimiliki oleh para guru zaman sekarang. Ini tidak hanya meliputi pengolahan limbah dan optimalisasi sumber daya atau sumber energi saja, tapi juga meliputi literasi digital, pengaplikasian model bisnis sirkular, serta penerapan kebijakan hijau.
Elan menuturkan, kolaborasi antar perusahaan-perusahaan publik ataupun swasta dengan beberapa pemangku kepentingan terkait sangat dibutuhkan untuk memperkuat peran pendidikan melalui pendekatan ESG. Harapannya, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai isu sektoral semata, melainkan sebagai motor penggerak pembangunan berkelanjutan yang berdampak bagi semua pihak, termasuk yang tinggal di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).”
Acara ini melibatkan 16 perusahaan, baik BUMN maupun swasta, yang dihadiri oleh para praktisi ESG dan CSR dari berbagai sektor untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta strategi kolaboratif. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen bersama untuk menjadikan pendidikan sebagai bagian penting dari pembangunan berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!