Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Peneliti Ungkap Mekanisme Penyerapan Karbon di Padang Rumput Tibet

📅 Rabu, 18 Jun 2025, 22:38 WIB | Oleh:
Peneliti Ungkap Mekanisme Penyerapan Karbon di Padang Rumput Tibet Doc: ANTARA/Xinhua/Du Xiaowei
Ket. Foto udara menunjukkan burung bangau berleher hitam di Cagar Alam Nasional Qinghai Longbao, Kota Yushu, Prefektur Otonomi Tibet Yushu, Provinsi Qinghai, Tiongkok.

XINING - Sebuah penelitian baru mengungkap mekanisme kunci penyerapan karbon di padang rumput pegunungan tinggi di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, Tiongkok barat, yang memberikan landasan ilmiah untuk keamanan ekologi.

Penelitian yang dilakukan oleh tim periset dari Institut Biologi Dataran Tinggi Barat Laut (Northwest Institute of Plateau Biology/NWIPB) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences/CAS) ini dipublikasikan dalam jurnal Agricultural and Forest Meteorology.

Ekosistem pegunungan tinggi Dataran Tinggi Qinghai-Tibet berfungsi sebagai penyerap karbon yang sangat penting, dengan variasi musiman dan antartahun dalam kapasitas asimilasi karbonnya diatur oleh faktor iklim.

"Penting untuk meningkatkan pemahaman tentang mekanisme siklus karbon di wilayah ini," kata Peneliti NWIPB He Fuquan.

Tim peneliti mengumpulkan data pengamatan kumulatif dari 24 lokasi di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.

Lokasi-lokasi tersebut tersebar di berbagai lingkungan ekosistem padang rumput pegunungan, termasuk ladang pegunungan, lahan basah pegunungan tinggi, ladang semak pegunungan, stepa pegunungan tinggi, dan padang rumput yang dibudidayakan.

Para peneliti menganalisis anomali antartahun dalam pertukaran ekosistem bersih musiman dan tahunan, periode penyerapan karbon, dan laju penyerapan karbon bersih maksimum terkait dengan variabel iklim di berbagai ekosistem pegunungan tinggi.

Mereka menemukan bahwa stepa pegunungan tinggi memiliki periode penyerapan karbon terpanjang tetapi juga memiliki laju penyerapan karbon bersih maksimum terendah, sementara padang rumput yang dibudidayakan memiliki periode penyerapan karbon lebih pendek daripada padang rumput alami.

Presipitasi hujan musim semi merupakan "pemicu" utama yang menginisiasi siklus penyerapan karbon di padang rumput alami. Selama musim pertumbuhan, durasi periode penyerapan karbon ditentukan bersama oleh presipitasi hujan awal musim dan jenis padang rumput, yang berkontribusi pada variabilitas antartahun dan perbedaan ekosistem dalam hal pertukaran ekosistem bersih, seperti yang diungkapkan dalam studi tersebut.

Ke depannya, tim peneliti akan berfokus pada mekanisme dampak anomali iklim terhadap periode penyerapan karbon dan laju penyerapan karbon bersih maksimum, jelas He.

Peneliti akan lebih memperbaiki model prediksi dinamis terkait penyerapan karbon pegunungan tinggi dan memberikan dukungan yang lebih baik untuk keamanan ekologi, tambahnya. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.