RUPTL 2025-2034, Makin Menjauhkan RI dari Target Net Zero Emission
📅 Rabu, 28 Mei 2025, 22:02 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA- Komitmen Pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi melalui transisi dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang menggunakan energi kotor/fosil yakni batubara sebagai bahan bakar ke pembangkit yang berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) mulai kendor.
Hal itu terlihat pada Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di Jakarta, Senin (26/5).
Menteri ESDM dalam kesempatan itu bahkan menyitir pernyataan soal mundurnya beberapa negara dari komitmen Paris Agreement yang sudah tidak menjadi komitmen bersama lagi. Bahlil bahkan secara tegas membela pemanfaatan komoditas batubara.
“Batubara tidak boleh dianggap sebagai komoditas terlarang, tidak apa-apa untuk digunakan jika kita membutuhkannya,” jelas Bahlil dalam konprensi pers.
Kementerian ESDM dalam kesempatan itu menjelaskan rencana Pemerintah menambah kapasitas listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW) pada akhir tahun 2034, sebagian besar berasal dari sumber terbarukan. Namun demikian masih berharap menambah pembangkit listrik berbahan bakar batubara baru.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dikutip dari The Straits Times, penambahan tersebut akan membutuhkan investasi lebih dari 2.967 triliun rupiah dalam rencana pasokan listrik baru untuk tahun 2025 hingga 2034, lebih ambisius dari rencana sebelumnya untuk menambah 40GW dari tahun 2021 hingga 2030.
Dalam RUPTL 2021-2030, Pemerintah sudah menyampaikan penambahan kapasitas pembangkit itu didominasi energi baru terbarukan sehingga membantu mencapai target emisi gas rumah kaca nol persen pada tahun 2060. Kini, Pemerintah seperti disampaikan Bahlil menarik kembali komitmen untuk menghentikan aset batubara. Beberapa pembangkit listrik tenaga batu barabaru diperkirakan masih akan beroperasi secara komersial paling lambat pada tahun 2033.
“Kalau ada donatur yang memberi dana, bunga rendah, saya akan izinkan untuk pensiun,” kata Bahlil menanggapi pertanyaan mengenai rencana pensiun dini PLTU batubara sebelumnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bakal Panjang
Menanggapi langkah mundur Bahlil tersebut, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira menegaskan, target net zero emission (NZE) makin jauh karena model RUPTL- nya memasukkan pembangkit batubara dan gas dalam rencana pembangunan.
Emisi karbon yang dihasilkan 6,3 GW PLTU yang baru papar Bhima setara dengan 31,5 juta ton karbondioksida (CO2). “Begitu sudah dibangun maka umurnya bakal panjang bisa 15-20 tahun dan hambat penurunan emisi yang signifikan,” jelas Bhima.
Selain itu, dalam RUPTL terbaru tidak ada rencana memensiunkan PLTU, sehingga kurang layak disebut sebagai rencana mencapai target iklim yang ambisius.
Inkonsistensi kebijakan di sektor energi itu otomatis membuat investor yang mau masuk ke EBT jadi bingung karena pemerintah masih menempatkan batubara sebagai sektor prioritas dan malah diberi subsidi besar-besaran.
Pada kesempatan lain, Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa juga menyoroti masih besarnya proporsi batubara, gas, dan nuklir yang masuk dalam rencana pembangunan di RUPTL.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!