Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menbud: Buku Sejarah Indonesia Terkendala Persoalan Foto

4 Rabu, 05 Agu 2026, 13:08 WIB | Oleh:
Menbud: Buku Sejarah Indonesia Terkendala Persoalan Foto Menbud: Buku Sejarah Indonesia Terkendala Persoalan Foto Doc: antara foto
Ket. Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon

JAKARTA - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengungkapkan buku Sejarah Indonesia masih terkendala persoalan foto, karena sejumlah foto orisinal perlu penyelesaian terkait kekayaan intelektualnya.

“Jadi terakhir itu yang mengenai buku, itu kan sudah selesai sebetulnya. Tapi ternyata masih ada kendala terutama foto,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8).

Ia menjelaskan bahwa terdapat foto orisinal tengah ditindaklanjuti terkait dengan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP).

“Jadi tim masih menyeleksi foto-foto tersebut, termasuk dari ANTARA, dari IPPHOS ya. Jadi masih terkendala sedikit di foto dan layout-nya sudah berjalan sudah mungkin hampir selesai,” katanya.

Meski demikian, Fadli masih menargetkan bahwa buku sejarah yang terdiri atas 11 jilid itu dapat selesai dan diluncurkan pada Agustus 2026.

“Iya target (selesai) bulan Agustus ini, target ya. Mudah-mudahan tidak meleset,” katanya lagi.

Sebelumnya, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon berencana meluncurkan buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” sebagai bagian dari upaya negara merawat memori kolektif dan memperkuat jati diri bangsa.

"Pembuatan buku ini merupakan bagian dari upaya negara merawat memori kolektif dan memperkuat jati diri bangsa melalui penulisan sejarah yang komprehensif, dengan perspektif nusantara," kata Fadli Zon saat menyampaikan sambutan di Jakarta, Minggu (14/12).

Buku "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global" itu memetakan perjalanan panjang bangsa Indonesia, mulai dari akar peradaban Nusantara, interaksi global dengan India, Tiongkok, Persia, Timur Tengah, hingga Barat, masa kolonial, pergerakan kebangsaan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, konsolidasi negara, era Orde Baru, hingga reformasi dan konsolidasi demokrasi sampai 2024.

Menurut Fadli, buku ini tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya rujukan sejarah, melainkan salah satu acuan di negara demokrasi. Ia menyadari penulisan sejarah bersifat dinamis dan terbuka terhadap diskursus.

“Kalau sejarah kita ditulis lengkap, mungkin harus seratus jilid. Buku ini adalah highlight perjalanan bangsa,” katanya.

Buku sejarah tersebut disusun oleh para ahli dan bukan ditulis oleh pemerintah. Ia menyebut, proses penulisan buku itu melibatkan 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi di Indonesia yang difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Sejarah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...

Tahun Depan Seluruh OPD Bogor Sudah Digitalisasi

22 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Tahun Depan Seluruh OPD Bog...
Olahraga
Djokovic Mulai Pulih dari M...
Olahraga
West Ham Pecat Nuno Espirit...
Luar Negeri
Korea Utara Murka Menolak T...
Advertisement
Terkonfirmasi, Jenderal LSP Ditahan di Rutan Mabes Polri   

Terkonfirmasi, Jenderal LSP Ditahan di Rutan Mabes Polri  

03 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.