Bertekuk Lutut, Tiongkok Tidak Punya Pilihan Selain Meningkatkan Impor dari AS
📅 Senin, 12 Mei 2025, 22:45 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Demi kebaikan Tiongkok dan AS, kami ingin Tiongkok lebih terbuka terhadap bisnis Amerika. KEMAJUAN BESAR TELAH DICAPAI!!!,” tulis Trump lebih lanjut di platform Truth Social seperti dikutip dari Antara.
Kebutuhan CPO Turun
Menanggapi kondisi terkini perekonomian global, Peneliti Pusat Riset Pengabdian Masyarakat (PRPM) Institut Shanti Bhuana, Bengkayang, Kalimantan Barat, Siprianus Jewarut yang diminta pendapatnya mengatakan Kebijakan Trump akhirnya membuat posisi Tiongkok terjepit. Tiongkok tidak punya pilihan selain menyerah dan masuk ke meja perundingan.
Sebetulnya, Tiongkok kata Siprianus ketika Trump di masa kepemimpinan pertamanya sudah berjanji ke AS untuk menerapkan perdagagangan yang lebih fair, namun mereka tidak melakukan karena oleh pengganti Trump yakni Joe Biden tidak menagih Beijing.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk menyeimbangkan neraca perdaganan AS dan Tiongkok itu, maka satu-satunya cara yang harus dilakukan adalah Tiongkok mengimpor barang lebih besar dari AS. Sebagai konsekwensinya, Tiongkok kemungkinan akan mengurangi impor dari negara lain, terutama barang atau komoditas yang bisa diimpor dari AS.
“Impor Tiongkok dari negara lain jelas berkurang, termasuk dari Indonesia khususnya komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). AS juga kan eksportir untuk minyak nabati seperti minyak jagung dan kedelai. Jadi Tiongkok pasti akan beli ke AS, sehingga kebutuhan CPO-nya akan menurun,” kata Siprianus.
Meskipun harga minyak nabati dari AS lebih mahal, tetapi mau tidak mau Tiongkok lebih baik akan membeli dari AS. Walaupun selama ini, Tiongkok membeli dari Singapura karena ada prekatik korupsi di transaksi tersebut berupa pemberian fee.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Siprianus, Trump punya tekad yang kuat ingin menghilangkan korupsi dengan reformasi struktural. Kalau tidak dilakukan, maka AS akan mengalami kondisi ekonomi dan keuangan yang gagal fatal, karena defisit perdagangan akan meningkat tinggi.
“Bagaimana mau membayar utang kalau tidak ada surplus devisa. Pilihannya berutang lagi, tapi pilihan untuk itu tidak sebanyak dulu,” katanya.
Trump paparnya adalah pemimpin yang berpikir dan punya nasionalisme yang kuat dengan menarik kembali semua uang untuk AS.
RI Jangan Boros
Belajar dari perang dagang tersebut, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko mengatakan Indonesia jangan terlalu boros dalam perdagangan dengan negara lain, terutama mengimpor barang konsumsi seperti pangan yang sebetulnya bisa diproduksi di dalam negeri.
Presiden Prabowo Subianto harus berpikir begitu pentingnya menciptakan stabilitas melalui kemandirian pangan. Sebab, setiap tahun Indonesia memboroskan devisa hingga 15 miliar dollar AS untuk impor pangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!