Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hardjuno Wiwoho Ingatkan Ancaman Korupsi di Danantara: Pelajaran dari Skandal Pertamina

📅 Kamis, 27 Feb 2025, 21:45 WIB | Oleh:
Hardjuno Wiwoho Ingatkan Ancaman Korupsi di Danantara: Pelajaran dari Skandal Pertamina Doc: Istimewa

JAKARTA – Kejaksaan Agung mengungkap dugaan korupsi di PT Pertamina yang berpotensi merugikan negara hingga Rp 968,5 triliun dalam lima tahun. Kasus ini kembali mengungkap lemahnya tata kelola keuangan di BUMN. Namun, pengelolaan aset negara di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) disebut bisa berisiko lebih besar.

Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho, menilai Danantara, yang mengelola aset ribuan triliun rupiah, bisa menjadi ladang korupsi yang lebih besar dibandingkan skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan juga skandal impor pertamax di Pertamina yang diungkap Kejagung hari-hari ini. “Kelemahan dalam tata kelola aset negara berpotensi menciptakan korupsi sistemik yang merugikan rakyat dalam skala besar,” ujarnya dalam rilis pers, Kamis (27/2).

Hardjuno menambahkan berbagai kasus korupsi besar di BUMN, seperti dugaan korupsi timah di PT Timah (Rp 300 triliun), penyerebotan lahan ilegal oleh PT Duta Palma Group (Rp 78 triliun), hingga kasus dana pensiun di PT Asabri (Rp 22,7 triliun). “Semua ini menunjukkan lemahnya pengawasan yang memungkinkan aset negara digerogoti,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa Danantara berisiko menjadi “bom waktu” jika tidak diawasi ketat. “Jangan sampai Danantara jatuh ke tangan politisi yang hanya mencari keuntungan pribadi. Harus ada audit independen dan transparansi penuh,” katanya.

Selain itu, ia juga mengungkap potensi konflik kepentingan dalam pengelolaan aset negara. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, pihak-pihak berkepentingan bisa memanfaatkan aset Danantara demi keuntungan pribadi atau kelompok tertentu. “Ketiadaan transparansi akan memperburuk keadaan, membuat penyimpangan semakin sulit diungkap,” tambahnya.

Menurutnya, keterlibatan publik dalam pengawasan menjadi kunci untuk mencegah korupsi dalam skala besar. “Kita butuh sistem audit yang diawasi oleh publik, melibatkan akademisi dan media yang berani mengungkap kebenaran,” tegasnya.

Jika tata kelola Danantara tidak diperketat, Indonesia berisiko menghadapi skandal keuangan yang lebih besar dari sebelumnya. “Dengan aset sebesar itu, Danantara bisa menjadi sasaran empuk bagi mereka yang ingin memperkaya diri sendiri. Reformasi pengelolaan aset negara harus dilakukan sekarang,” pungkas Hardjuno.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
  • Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027
    Timnas bakal lebih tajam dengan tambahan pemain ini ...
  • Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
    Langkah Kemenperin memprioritaskan restrukturisasi mesin yang telah berusia ...
  • Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
    Pencapaian ekspor mainan yang menembus USD 351,8 juta ...
Luar Negeri
WMO: El Nino Berpotensi Cap...

KLH Siap Pastikan SPPG Ramah Lingkungan

2 jam lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
KLH Siap Pastikan SPPG Rama...
Nasional
Menkeu Minta Restitusi Paja...

Banjir di Tailan Meluas

2 jam lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Banjir di Tailan Meluas
Luar Negeri
Trump Umumkan Kesepakatan I...
Advertisement
WMO: El Nino Berpotensi Capai Rekor Terkuat Sejak 1950

WMO: El Nino Berpotensi Capai Rekor Terkuat Sejak 1950

10 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.