Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tekan Emisi Kendaraan Listrik dengan Teknologi ‘Smart Charging’ dan V2G, Bagaimana Hasilnya?

📅 Senin, 21 Okt 2024, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Dalam hal ini, pengisian daya akan lebih optimal jika menggunakan teknologi smart charging yang memungkinkan pengisian kendaraan listrik diatur secara cerdas. Misalnya, pengisian menyesuaikan waktu yang sesuai dengan ketersediaan energi terbarukan.

Penelitian kami menunjukkan, pengisian daya dengan smart charging mampu meningkatkan penggunaan energi dari tenaga surya, mengurangi emisi hingga 12%, dan menghemat biaya 9% dibandingkan skenario tanpa kendaraan listrik (skenario saat semua kendaraan masih berbahan bakar fosil).

Optimalisasi pengisian baterai EV dengan teknologi V2G

Untuk lebih meningkatkan efisiensi pengisian baterai kendaraan listrik, kita dapat memanfaatkan teknologi Vehicle-to-Grid (V2G).

Dengan teknologi V2G, kendaraan listrik tidak hanya dapat mengisi daya secara langsung dari jaringan listrik (grid). Kendaraan listrik juga bisa mengirimkan setrum kembali ke grid ketika dibutuhkan.

Artinya, kendaraan listrik bisa berfungsi ganda: selain sebagai alat transportasi, mereka juga dapat berperan sebagai penyimpanan energi bergerak untuk menstabilkan jaringan listrik, terutama saat permintaan listrik tinggi.

Baterai litium-ion yang digunakan dalam kendaraan listrik menjadi komponen utama yang memungkinkan teknologi V2G berfungsi. Baterai lithium-ion kini sudah umum digunakan untuk menyimpan energi dalam skala besar.

Teknologi ini sangat relevan di Indonesia, mengingat jumlah stasiun pengisian kendaraan listrik masih sangat terbatas, yaitu sekitar 1.582 unit di seluruh Indonesia.

Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan Cina yang sudah memiliki 9,92 juta stasiun. Ini artinya Cina memiliki 6.900 stasiun pengisian kendaran listrik untuk setiap 1 juta penduduk, sementara Indonesia hanya memiliki 5,7 unit per 1 juta penduduk.

Teknologi V2G telah diuji coba sebagai proyek percontohan di 27 negara, seperti Australia, Amerika Serikat, Inggris, China, dan Denmark. Sayangnya, sampai saat ini belum ada informasi mengenai penerapannya di Indonesia.

Simulasi kami menunjukkan bahwa, meskipun V2G membutuhkan biaya tambahan hingga US$50/megawatt jam (MWh), teknologi ini tetap lebih efisien daripada baterai penyimpanan konvensional. Sebab, kendaraan listrik bisa berfungsi ganda sebagai penyimpanan daya bergerak.

Penggunaan V2G bahkan bisa mengurangi kebutuhan energi penyimpanan stasioner hingga 84%, menurunkan emisi sebesar 27%, dan meningkatkan penetrasi energi terbarukan sebesar 10%.

Namun, kita masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami kesiapan partisipasi konsumen di Indonesia dalam skema ini.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
G7 Akan Lepas 100 Juta Bare...

PBB akan Alokasikan Dana untuk 12 Krisis Kemanusiaan

57 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.