Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tekan Emisi Kendaraan Listrik dengan Teknologi ‘Smart Charging’ dan V2G, Bagaimana Hasilnya?

📅 Senin, 21 Okt 2024, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tekan Emisi Kendaraan Listrik dengan Teknologi ‘Smart Charging’ dan V2G, Bagaimana Hasilnya? Doc: ANTARA/Sigid Kurniawan
Ket. Petugas mendemonstrasikan cara pengisian kendaraan listrik melalui Electric Vehicle Charging Station (EVCS) di kantor BPPT, Jakarta, Rabu (5/12/2018).

Ahmad Amiruddin, Monash University

Penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) meningkat drastis, baik secara global maupun di Indonesia.

Pada 2023, sebanyak 14 juta unit atau setara dengan 18% kendaraan yang terjual di dunia adalah kendaraan listrik. Angka ini lebih tinggi 3,5 juta dibandingkan tahun sebelumnya, atau naik 35%.

Di Indonesia, penjualan kendaraan listrik mencapai lebih dari 23 ribu unit atau 4% dari total penjualan kendaraan sepanjang Januari-Agustus 2024. Penjualan ini lebih tinggi 177% persen dibandingkan jumlah penjualan tahun sebelumnya pada periode yang sama (8.310 unit).

Lonjakan pertumbuhan kendaraan listrik salah satunya dipicu oleh tren global yang mulai beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil, di mana banyak negara menganggap kendaraan listrik sebagai salah satu alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Secara umum, kendaraan listrik memang tidak menghasilkan emisi dari knalpot, sehingga dapat langsung mengurangi karbon dioksida (CO2) dan polutan lainnya di udara. Namun, kendaraan listrik tidak sepenuhnya bebas dari masalah lingkungan, terutama jika infrastruktur pengisian baterai dan sumber energi yang mendukungnya belum ramah lingkungan. Isu ini menjadi perhatian serius bagi banyak aktivis lingkungan.

Selain itu, kendaraan listrik juga berpotensi meningkatkan emisi jika waktu pengisian baterainya tidak diatur dengan baik. Penelitian kami menunjukkan bahwa waktu pengisian sangat memengaruhi jumlah emisi yang dihasilkan.

Untuk itu, teknologi smart charging (pengisian pintar) dan Vehicle-to-Grid (V2G) amat kita perlukan sebagai solusi mengoptimalkan pengisian baterai. Harapannya, kita dapat mengurangi emisi terkait kendaraan listrik, meningkatkan penggunaan energi terbarukan, dan menekan biaya.

Bagaimana waktu pengisian EV mempengaruhi jumlah emisi?

Saya bersama tim peneliti di Monash University telah meneliti dampak penetrasi dan waktu pengisian kendaraan listrik terhadap emisi, energi terbarukan dan biaya. Kami membandingkan skenario jika setengah dari semua kendaraan yang ada adalah kendaraan listrik pada 2050 (50% EV pada 2050) dan skenario tanpa kendaraan listrik. Hasil utama penelitian kami menunjukkan bahwa:

    • Kenaikan permintaan listrik 11%-15%: Penetrasi 50% kendaraan listrik pada 2050 akan berdampak signifikan pada sistem kelistrikan. Permintaan listrik kemungkinan akan meningkat sebesar 11% hingga 15% dari total beban listrik.
    • Potensi peningkatan emisi: Peningkatan jumlah kendaraan listrik menyebabkan kenaikan emisi jika listrik yang digunakan untuk mengisi baterai kendaraan berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Kenaikan emisi juga terjadi jika waktu pengisian baterai tidak diatur dengan baik.
    • Waktu pengisian baterai sangat penting:
      Dampak penggunaan kendaraan listrik terhadap emisi dan penggunaan energi terbarukan sangat bergantung pada kapan baterai kendaraan diisi ulang.

Kami melakukan simulasi pengisian baterai pada pagi, siang, dan malam hari, serta simulasi dengan pengisian optimal menggunakan sistem smart charging.

Penelitian menunjukkan bahwa pengisian daya pada malam atau dini hari berdampak paling buruk terhadap emisi.

Musababnya, pengisian kendaraan listrik pada malam atau dini hari meningkatkan permintaan listrik secara tiba-tiba. Ini memaksa pembangkit listrik-khususnya pembangkit berbahan bakar fosil seperti gas-untuk beroperasi guna memenuhi lonjakan permintaan tersebut. Akibatnya, emisi karbon meningkat karena pembangkit berbahan bakar fosil menghasilkan lebih banyak emisi.

Pengisian daya di siang hari lebih baik. Sebab, energi terbarukan, seperti tenaga surya, biasanya tersedia dalam jumlah besar pada waktu tersebut. Ini memungkinkan pengurangan penggunaan pembangkit berbahan bakar fosil sehingga menurunkan emisi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Polda Jabar Tangkap Tersang...

Penataan Ruang Publik Menyambut HUT DKI Jakarta

22 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Daerah
Peringatan Hari Keamanan Pa...
Ekonomi
Program SPHP Kedelai Dukung...
Nasional
Pemerintah Perkuat SDM Mela...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.