Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Akses Pendidikan Harus Lebih Terbuka, Luas, dan Mudah

📅 Sabtu, 28 Sep 2024, 16:21 WIB | Oleh:

Anggaran jadi penyebab sekolah gratis belum terlaksana. Satuan biaya untuk untuk operasional sekolah saja masih sangat kurang sehingga ketika kita dituntut untuk menggratiskan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) belum memungkinkan.

Pemerintah memang telah menanggung gaji guru di sekolah negeri. Hal tersebut belum bisa untuk sekolah swasta karena anggaran belum memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Untuk SD, pemerintah baru memenuhi sekitar 40 sampai 80 persen gaji guru. 80 persen itu sekitar untuk yang (sekolah) negeri. Kalau swasta rata-rata hanya sekitar 40-an persen saja, sedangkan SMP sekitar 28 sampai 63 persen dan SMA sekitar 30 sampai 68 persen.

Dari sisi akses pendidikan, angka partisipasi kasar di dunia pendidikan baru sampai pada 35,36 persen. Artinya, masih ada anak yang belum mampu mengakses pendidikan SD, SMP, dan SMA.

Efek dari ini semuanya, rata-rata lulusan sekolah kita per hari ini masih lulusan SMP belum bisa beranjak, dan ini sudah hampir 15 sampai 20 tahun lulusan rata-rata nasional kita masih SMP.

Dengan kondisi tersebut, apa saja yang telah dilakukan untuk meningkatkan akses pendidikan?

Kita fokusnya memang di dalam lima tahun terakhir peningkatan kualitas, namun tidak berarti mengesampingkan akses utamanya terkait dengan anak-anak yang tidak sekolah.

Selama masa pandemi Covid-19, kualitas pendidikan memang berdampak signifikan. Masih ada beberapa daerah yang belum mampu menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara optimal sehingga yang terjadi memang ada learning loss, tetapi bisa kita tahan sedemikian rupa tidak separah malah negara-negara lain.

Terkait akses untuk tingkat sekolah pemerintah memiliki program Kartu Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk pendidikan tinggi. Untuk PIP, kita berhasil meningkatkan nominal bantuan untuk siswa.

Program tersebut juga membuka akses masyarakat miskin untuk mengenyam pendidikan, bahkan hingga tingkat pendidikan tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelompok mahasiswa dari keluarga tidak mampu saat ini sekitar 17 persen.

Untuk KIP Kuliah tidak hanya membantu biaya uang harian dan buku, tetapi juga membayar uang kuliah. Hal ini membuat mahasiswa dari kelompok tidak mampu lebih berani melanjutkan studi ke pendidikan tinggi karena sudah terjamin.

Kalau dulu kan sama semua, mau di Jakarta mau di Sulawesi mau di Papua sama. Sekarang kita sesuaikan. Jadi, tingkat kemahalannya disesuaikan dan juga program studi dipertimbangkan yang program studi yang membutuhkan biaya besar seperti kedokteran, teknik, tentunya lebih tinggi dari humaniora.

Bagaimana dengan intervensi di daerah 3T?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
Daerah
PLN Libatkan 26 UMKM pada P...
Nasional
Jadwal TKA untuk Jenjang SM...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.