Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Banua Wuhu, Gunung Bawah Laut Langka di Perairan Sangihe

📅 Sabtu, 14 Sep 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Banua Wuhu, Gunung Bawah Laut Langka  di Perairan Sangihe Doc: antara/ Andika Wahyu

Salah satu keunikan Kepulauan Sangihe adalah memiliki gunung api bawah laut yang ramah bagi wisatawan. Dengan kedalaman hanya 5 meter, pengunjung bisa menyelam,snorkeling, untuk melihatsolfatarayang keluar dalam bentuk gelembung udara.

Belum banyak yang tahu bahwa di Kabupaten Kepulauan Sangihe terdapat gunung api bawah laut. Bernama Gunung Banua Wuhu, tempat ini cukup bersahabat untuk dieksplorasi oleh wisatawan dengan carasnorkeling, menyelam, bahkan dari atas perahu.

Secara geografis gunung tersebut berada di 3 derajat 08 menit 16 lintang utara dan 125 derajat 29 menit 26 detik bujur timur. Sedangkan secara administratif berada di sebelah barat daya Pulau Mahangetang, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.

Gunung Banua Wuhu berada di tengah-tengah pulau-pulau lain yang kondisinya masih sangat alami, tersebar di timur laut, barat dan juga selatan. Arah timur laut Gunung Banua Wuhu terdapat Pulau Karakitang yang memiliki pelabuhan di dalam teluk sehingga ombaknya terasa sangat tenang.

Di arah arah barat Gunung Banua Wuhu terdapat Pulau Mahangetang. Pulau ini dihuni penduduk yang mendiami banyak rumah-rumah nelayan serta menyediakan wilayah untuk selam di sekitar pulau yang memiliki terumbu karang yang masih lestari. Di arah selatan terdapat empat pulau yang sedikit melingkar seperti membentuk kaldera tua.

Mengapa gunung bawah laut itu mudah dilihat? Hal ini karena ketinggian puncak Gunung Banua Wuhu sekarang ini berada pada kedalaman sekitar 5 meter di atas permukaan air laut saja. Sedangkan ketinggian gunung bawah laut ini adalah 400 meter dari dasar laut.

Gunung Banua Wuhu seakan timbul tenggelam dari waktu ke waktu. Karena sebelum tenggelam di bawah permukaan laut seperti sekarang, gunung api aktif ini pernah muncul ke permukaan sebelum kembali tenggelam di wilayah lautan yang termasuk bagian dari Laut Sulawesi.

Erupsi dari kawah yang meruntuhkan badan gunung yang memang berupa erupsi eksplosif. Letusan ini menghasilkan jatuhan piroklastik dan erupsi efusif berupa aliran lava. Aliran material inilah yang membentuk badan gunung hingga menciptakan pulau gunung berapi sebelum kembali menghilang.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mencatat bahwa letusan Gunung Banua Wuhu pada paling awal yang diketahui terjadi pada tanggal 23-26 April 1835. Ketika itu erupsi berupa aliran lava dari kawah pusatnya.

Letusan tersebut memilikivolcanic explosivity index(VEI) 2. Hal ini berlaku pada erupsi satu hingga kelima. Pada skala yang dicetuskan oleh Christopher G Newhall dari the United States Geological Survey dan Stephen Self pada 1982 tersebut, menghasilkan material lontar sebanyak 1-5 kilometer kubik.

Periode erupsi yang kedua terjadi pada tanggal 6-9 September 1889. Saat itu Gunung Banua Wuhu mengalami ekstrusi atau mengeluarkan magma ke permukaan bumi menjadi lava yang meledak secara dahsyat di atmosfer dan jatuh kembali sebagai bebatuan piroklastik atau batu tuf.

Periode yang ketiga terjadi pada bulan Juli-26 Desember 1895. Pada saat itu gunung ini mengalami erupsi eksplosif normal dari kawah pusat Gunung Banua Wuhu. Periode erupsi tanggal 17-18 April 1904 dan 27 Agustus 1904 membuat gunung ini mengalami erupsi eksplosif dari kawah pusat melemparkan batu-batu sampai ke pantai Pulau Mahangetang.

Sedangkan pada periode erupsi keenam atau terakhir Gunung api Banua Wuhu sekaligus yang terbesar terjadi pada periode tanggal 18 Juli 1918 hingga 1 Desember 1919 dengan skala VEI 3. Kronologinya, tanggal 18 Juli 1918 terjadi erupsi yang menghasilkan batu apung yang tersebar di permukaan laut meluas sejauh mata memandang.

Pada 2 Februari 1919 kembali terjadi erupsi yang mengeluarkan lava. Dua bulan kemudian tepatnya, 2 April 1919, keluar lava dan erupsi eksplosif, air laut pasang, ledakan-ledakan hebat terjadi yang merusak pohon kelapa dan membakar rumah-rumah penduduk di pantai timur Pulau Mahangetang. Pada tanggal 3 April jam 10.30 WITA terjadi erupsi lagi dengan gumpalan uap membubung setinggi hingga 4000-5000 meter disertai erupsi-erupsi hebat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Persoalan HAM Harus Diseles...
Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.