Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Target Meraih Pertumbuhan 7-8 Persen, Kemenkeu Harus Dipimpin Teknokrat Ekonomi

📅 Selasa, 30 Jul 2024, 13:22 WIB | Oleh:
Target Meraih Pertumbuhan 7-8 Persen, Kemenkeu Harus Dipimpin Teknokrat Ekonomi Doc: Istimewa
Ket. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) saat meresmikan Rumah Batik Fractal di Sukabumi, pekan lalu.

JAKARTA- Menteri Pertahanan yang juga Presiden terpilih Prabowo Subianto pada pekan lalu menekankan pentingnya sektor keuangan, pangan dan energi sebagai fokus Pemerintahannya bersama Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka untuk masa Pemerintahan 2024-2029.

Penekanan Prabowo tersebut sudah mulai terlihat dengan penunjukan dua kader Partai Gerindra yaitu Thomas Djiwandono sebagai Wakil Menteri Keuangan II dan Sudaryono sebagai Wakil Menteri Pertanian.

Dalam syukuran kedua kader Gerindra atas kepercayaan Pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi), Prabowo menyampaikan bahwa bidang pertanian dan keuangan ke depan punya tanggung jawab yang spesifik dan sangat vital karena berkaitan langsung dengan nasib rakyat Indonesia.

"Dua bidang ini sangat strategis dan saya percaya, saudara-saudara akan memikul tanggung jawab dengan sekuat tenaga, penuh pengabdian, cinta tanah air dan bertanggung jawab mulai sekarang atas nasib bangsa," kata Prabowo.

Atas penunjukan itulah mulai muncul rumor dan spekulasi, kalau Prabowo akan menempatkan dua kadernya sebagai menteri di dua bidang tersebut khususnya sebagai Menteri Keuangan dan Menteri Pertanian.

Di kalangan pemerhati sektor keuangan dan pertanian pun mulai muncul berbagai pro dan kontra atas inisial yang dilempar Prabowo tersebut ke publik. Sebagian besar dari mereka terutama pelaku pasar berharap posisi Menteri Keuangan dan Menteri Pertanian diisi sosok yang profesional, independen, punya rekam jejak yang jelas dan punya visi membawa bangsa keluar dari kebergantungan pada utang, impor pangan dan energi.

Selain itu, figur profesional pada dua posisi strategis itu harus memiliki strategi yang terencana dan terukur untuk mengangkat ekonomi Indonesia tumbuh 7-8 persen agar bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Hal itu sangat terkait dengan pengalaman dan reputasi yang baik terutama dalam memformulasikan desain fiskal yang mampu mensupport target yang telah ditetapkan itu yakni pertumbuhan 7-8 persen seperti yang dijanjikan Prabowo.

Ekonom Verdhana Sekuritas, Heriyanto Irawan, dalam acara Market Outlook 2024 beberapa waktu lalu mengatakan bahwa ada calon Menkeu periode Prabowo-Gibran yang meminta masukan bagaimana merancang kebijakan yang market friendly. Permintaan itu sebagai tanggapan atas berita dari Financial Times saat mewawancarai Hashim Djojohadikusumo terkait rencana utang ke depan.

Ada pun nama-nama yang santer beredar sebagai kandidat pengganti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati antara lain Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar.

Perlu Teknokrat

Maraknya berbagai spekulasi kandidat itu, kemudian juga memunculkan gagasan perlunya perubahan paradigma ekonomi keuangan, dari yang selama ini banyak dipengaruhi oleh ekonom-ekonom murni dari kampus-kampus ternama seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ekonom dari dua kampus tersebut diniali lebih mengedepankan kestabilan terutama asumsi ekonomi makro, tetapi kadang kurang concern terhadap sektor riil atau dunia usaha. Padahal, dunia usaha sangat berperan vital dalam membuka lapangan kerja, menyerap angkatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga menurunkan angka kemiskinan.

Ketua Alumni ITB DKI Jakarta 2009-2015, Hendry Harmen yang diminta pendapatnya mengatakan, selama ini pos Menteri Keuangan diisi oleh UI atau UGM. Sebab itu, sudah saatnya melakukan perubahan paradigma dengan memberi kesempatan ke teknokrat ekonomi jadi bendahara negara.

"Sejarah mencatat, Presiden ke-3 RI, Prof BJ Habibie sebagai teknokrat, pernah menorehkan catatan fenomenal dengan membawa kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) stabil dari kisaran 15.000 per dollar AS ke hampir 8.000 rupiah per dollar AS, hanya dalam setahun kepemimpinannya. Ini patut ditiru Prabowo, jika ingin meraih pertumbuhan ekonomi 7-8 persen," kata Hendry.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.