Denisovan, Manusia Purba yang Masih Misterius
📅 Senin, 20 Mei 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoPada 2022, para peneliti telah mengidentifikasi delapan fosil kecil dan sangat terfragmentasi sebagai Denisovan berdasarkan DNA mereka, menurut studi pada 2021 di jurnal Nature Ecology & Evolution. Kedelapan fosil tersebut ditemukan di Gua Denisova berupa tiga geraham, serpihan tulang dari tulang lengan atau kaki yang panjang, tiga potong tulang, dan sepotong tulang jari, satu-satunya fosil yang menghasilkan cukup DNA untuk pengurutan seluruh genom.
Para ilmuwan juga telah menemukan fosil Denisovan lain yang mengandung protein yang para peneliti ketahui sebagai Denisovan berdasarkan penelitian DNA sebelumnya pada garis keturunan yang telah punah. Fosil-fosil tersebut antara lain tulang rahang dari situs di Tiongkok dan gigi geraham dari sebuah gua di Laos.
Berdasarkan DNA atau proteinnya, sisa-sisa Denisovan yang ditemukan hingga saat ini hanya menghasilkan sedikit petunjuk tentang cara mengidentifikasi fosil Denisovan berdasarkan morfologi atau bentuknya. Oleh karena itu, penelitian sebelumnya mungkin telah menemukan sejumlah besar fosil Denisovan yang masih belum dikenali karena mereka memiliki perbedaan morfologi dari garis keturunan manusia lainnya yang belum dapat diidentifikasi oleh para ilmuwan.
Semakin banyak bukti Denisovan yang ditemukan para ilmuwan."Terutama dari spesimen yang menghasilkan DNA dan bukti morfologi, semakin tinggi kemungkinan kita dapat memasukkan fosil tambahan yang sudah diketahui ke dalam kelompok ini," kata Harvati.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ahli paleoantropologi saat ini sangat memperhatikan potensi bukti genetik saat melakukan penggalian, sehingga peluang untuk menemukan lebih banyak bukti serupa lebih baik dari sebelumnya," imbuh dia.
Sebuah studi Nature tahun 2010 mengungkapkan bahwa Denisovan kawin dengan nenek moyang manusia modern, dengan DNA mereka membentuk sekitar 4 persen hingga 6 persen dari genom penduduk New Guinea dan Bougainville modern pada orang yang tinggal di pulau Melanesia, sub kawasan Oseania yang mencakup New Guinea, Kepulauan Solomon, Vanuatu, New Caledonia, dan Fiji. Sedangkan untuk DNA orang Asia daratan dan penduduk asli Amerika, studi Nature tahun 2013 menemukan bahwa hanya sekitar 0,2 persen yang berasal dari Denisovan.
DNA Denisovan mungkin memberikan sejumlah manfaat bagi manusia modern. Misalnya, studi Nature pada 2014 menemukan bahwa mutasi genetik dari Denisovan dapat membantu orang Tibet dan Sherpa hidup di dataran tinggi. Sebuah studi tahun 2016 di jurnal Science juga menemukan bahwa DNA Denisovan mungkin telah mempengaruhi sistem kekebalan manusia modern, serta kadar lemak dan gula darah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Studi Nature pada 2018 kemudian meneliti fragmen tulang sepanjang 2,5 sentimeter yang ditemukan pada 2012 di Gua Denisova. Pecahan ini berasal dari tulang yang panjang, seperti tulang kering atau tulang paha. Ketebalan bagian luar tulang menunjukkan bahwa fosil tersebut dulunya seorang perempuan yang berusia setidaknya 13 tahun ketika meninggal. Sementara penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa fosil tersebut berusia lebih dari 50.000 tahun.
DNA dari fosil ini tidak hanya mengungkapkan bahwa ia adalah hibrida Denisovan-Neanderthal pertama yang diketahui, tetapi juga bahwa ayah Denisovan dari individu ini memiliki setidaknya satu nenek moyang Neanderthal, mungkin 300 hingga 600 generasi sebelum masa hidupnya. Secara keseluruhan, penemuan tunggal ini membantu mengungkap berbagai contoh interaksi antara Neanderthal dan Denisovan.
Selain itu, para ilmuwan menemukan bahwa ibu Neanderthal dari gadis remaja tersebut secara genetik lebih mirip dengan Neanderthal di Eropa barat dibandingkan dengan Neanderthal lain yang hidup sebelumnya di Gua Denisova. Temuan ini menunjukkan bahwa Neanderthal bermigrasi antara Eurasia barat dan timur selama puluhan ribu tahun. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!