Risiko Serangan Jantung Dapat Dicegah dengan Deteksi Dini dan Kendali LDL-C
📅 Senin, 22 Jun 2026, 18:38 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Pasien diabetes perlu lebih waspada terhadap risiko komplikasi kardiovaskular yang dapat berkembang tanpa gejala jelas. Pemeriksaan rutin dan pengelolaan faktor risiko, termasuk kadar Low Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C) atau kolesterol jahat, menjadi langkah penting untuk mencegah serangan jantung dan stroke.
Hal tersebut disampaikan Prof. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP(K), FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dalam kegiatan health talk yang digelar Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Siloam Hospitals Surabaya bertajuk “Silent but Deadly: Serangan Jantung pada Penderita Diabetes”.
Prof. Yudi menjelaskan, diabetes bukan hanya masalah kadar gula darah tinggi, tetapi juga kondisi yang dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
“Pasien diabetes dapat mengalami risiko kardiovaskular tanpa gejala yang nyata. Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala dan pengelolaan faktor risiko tidak boleh diabaikan, meskipun pasien merasa sehat,” ujar Prof. Yudi dalam siaran pers, Senin (22/6).
Menurutnya, kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan saraf yang berperan dalam penyampaian sinyal nyeri. Kondisi tersebut membuat sebagian pasien diabetes tidak merasakan tanda khas serangan jantung, seperti nyeri dada, ketika terjadi penyumbatan pada pembuluh darah koroner.
Sebaiknya Anda baca juga:
Risiko tersebut semakin meningkat karena diabetes dapat mempercepat proses aterosklerosis, yaitu penumpukan kolesterol dan zat lain pada dinding pembuluh darah. Dalam proses ini, LDL-C dapat masuk ke lapisan pembuluh darah yang mengalami kerusakan dan membentuk plak.
Jika plak terus berkembang, pembuluh darah dapat mengalami penyempitan hingga tersumbat. Akibatnya, pasokan darah dan oksigen ke jantung terganggu sehingga meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke.
“LDL-C merupakan salah satu faktor risiko utama yang harus dikendalikan pada pasien diabetes. Semakin cepat kadar LDL-C dikelola, semakin besar peluang untuk menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular,” kata Prof. Yudi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menekankan pentingnya pendekatan pencegahan melalui prinsip “The Sooner, The Lower, The Better”. Konsep tersebut mendorong pengelolaan LDL-C sejak dini, pencapaian target kadar kolesterol sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, serta kepatuhan menjalani terapi dalam jangka panjang.
Selain menjaga kesehatan jantung, Prof. Yudi juga mengingatkan pasien diabetes untuk memperhatikan fungsi ginjal. Diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah kecil di ginjal sehingga fungsi penyaringan darah perlahan menurun.
Peringatan tersebut diperkuat oleh Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, SpPD, Subsp. EMD(K), FINASIM, FACP, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, yang menjelaskan bahwa gangguan ginjal akibat diabetes sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal.
“Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak jaringan ginjal secara bertahap. Karena pasien sering tidak merasakan kelainan pada tahap awal, pemeriksaan ginjal sebaiknya dilakukan secara proaktif,” ujar Dr. dr. Soebagijo.
Ia menyebut tiga pemeriksaan penting yang perlu dipantau pasien diabetes, yakni HbA1c untuk mengetahui kendali gula darah, Urine Albumin-to-Creatinine Ratio (UACR) untuk mendeteksi kebocoran protein dalam urine, serta estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) untuk menilai kemampuan ginjal menyaring darah.
Di Jawa Timur, diabetes masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2023, jumlah estimasi penderita diabetes berusia 15 tahun ke atas mencapai 854.454 orang. Sementara itu, Profil Kesehatan Kota Surabaya Tahun 2023 mencatat terdapat 104.363 pasien diabetes di Surabaya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!