Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perlakuan Kejam Kepada Para Budak

📅 Senin, 08 Apr 2024, 06:25 WIB | Oleh:
Perlakuan Kejam  Kepada Para Budak Doc: afp/ Patrick FORT

Sejak dibukanya lahan pertanian dan perkebunan, Suriname wilayah aslinya, yang selama berabad-abad hanya dihuni oleh masyarakat adat, kini telah menjadi masyarakat minoritas yang dijalankan oleh pemukim kulit putih dengan ribuan orang Afrika sebagai budaknya. Kemunduran wilayah tersebut menyebabkan pengambilalihan singkat oleh Inggris.

Kurangnya minat terhadap kawasan ini ada kaitannya dengan perkembangan di Hindia Belanda atau Indonesia kini. Hal ini menjadi lebih menarik bagi Belanda karena lebih banyak wilayah yang ditaklukkan, dan jumlah penduduk yang bandel jauh lebih sedikit.

Namun di Suriname, pihak-pihak berkepentingan lain dari Eropa juga datang pada saat itu, melihat adanya uang dan peluang dalam kegiatan pertanian di perkebunan. Baru pada saat itulah Belanda menyadari perlunya secara resmi menggabungkan wilayah tersebut, dengan jalur sempit subur di pantai, sebagai koloni dan menempatkannya di bawah administrasi negara Belanda.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, aliran budak terus berlanjut seiring dengan bertambahnya jumlah perkebunan. Bahkan ketika perbudakan tidak lagi diterima secara moral di seluruh Eropa dan dihapuskan mereka terus didatangkan.

Ketika Belanda juga harus menerima hal ini pada mulai masuk pekerja kontrak didatangkan dari India, mengikuti contoh Inggris. Kapal pertama yang membawa umat Hindustan dari India tiba pada 1873, tahun yang sama ketika perbudakan akhirnya dilarang.

Banyak kapal kemudian membawa pekerja kontrak dari India. Hal ini berlangsung hingga awal abad kedua puluh, ketika Mahatma Gandhi memprotes dan menentang keras ekspor pekerja India ke Afrika Selatan dan Karibia, termasuk Suriname.

"Orang Tiongkok juga datang dalam skala yang lebih kecil. Saya tidak tahu persis apa yang mendorong masuknya orang Tionghoa dari Makau pada tahun 1853. Namun sebagian besar orang Tionghoa lajang telah dibawa dan dicampur dengan penduduk lainnya," kata Naarendorp.

Ketika Belanda semakin banyak menaklukkan wilayah di Jawa terjadi surplus tenaga kerja di sana. Oleh karenanya ribuan orang Jawa juga direkrut dan diangkut ke kapal ke Suriname. Itu bahkan berlangsung hingga menjelang Perang Dunia Kedua.

Maka terciptalah De Oonbedoelde Samenleving atau Masyarakat yang Tidak Diinginkan yang menjadi judul dalam buku Jan Thielen dengan sumber Harvey Naarendorp, seorang diplomat dan politisi Suriname. Di sini orang-orang dari seluruh dunia dipertemukan.

Mereka tidak berbicara dalam bahasa satu sama lain, mempunyai budaya dan adat istiadat yang berbeda, menganut agama yang saling asing satu sama lain dan semuanya memiliki perbedaan. hubungan sosial politik dengan pemerintah kolonial Belanda.

"Tak satupun dari kami di Suriname yang berakhir di sini secara sukarela dan atas inisiatif kami sendiri. Satu-satunya pengecualian adalah beberapa ratus boeroo, petani Belanda miskin yang tidak dapat lagi bertahan hidup di negaranya sendiri dan berani menyeberang pada tahun 1845. Dan kemudian segelintir orang Lebanon," kata Naarendorp.

Jadi ketika Naarendorp menggunakan istilah masyarakat yang tidak diinginkan yang mengacu pada sifat subjektif dari orang-orang yang datang untuk tinggal di sini dan juga sifat objektif dari motif yang membawa mereka ke sini. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Megapolitan
Terdampak Kekeringan, Pemka...
Advertisement
Barang Temuan di Selat Sunda Bukan Milik 5 Jurnalis Hilang, Ini Penjelasan Polda Banten

Barang Temuan di Selat Sunda Bukan Milik 5 Jurnalis Hilang, Ini Penjelasan Polda Banten

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.