Di Mata Barat, Kereta Sesak Penumpang Jadi Metafora India Saat Ini
📅 Minggu, 18 Jun 2023, 13:18 WIB | Oleh: Tim PenulisKursi murah bagi pribumi
Untuk menarik "pribumi" (sebutan orang-orang Inggris untuk masyarakat jajahannya) agar menggunakan kereta api, pemerintah kolonial menetapkan tarif rendah, terutama di gerbong-gerbong kelas tiga - kategori terendah dan termurah dalam perjalanan kereta api.
Keputusan untuk mengenalkan tarif rendah tampaknya ganjil jika disandingkan dengan usaha kapitalis yang berpusat pada profit, dengan modal yang dikumpulkan oleh perusahaan-perusahaan swasta yang tergabung di Britania Raya.
Walaupun begitu, para kapitalis dan pemegang saham Inggris tak mengkhawatirkan profit mereka, yang ditanggung oleh pembayar pajak India. Pemerintah kolonial India menjamin perusahaan-perusahaan ini mendapatkan pengembalian tahunan 5% atas investasi mereka, terlepas dari apakah usaha itu menghasilkan keuntungan atau tidak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Walaupun sempat ada keraguan, perkeretaapian India berhasil menarik penumpang dan terus bertambah.
Pada tahun 1854 ketika kereta api mulai dioperasikan, jumlah penumpangnya sebanyak setengah juta orang, lalu tahun 1875 melonjak menjadi 26 juta. Pada tahun 1900, jumlah penumpang tahunan berada di kisaran 175 juta kemudian naik hampir 3 kali lipat menjadi 520 juta pada 1919-20.
Ketika partisi India terjadi pada 1947, jumlah perjalanan sudah mencapai 1 miliar penumpang per tahunnya. Memang, gambaran kereta yang penuh sesak menjadi contoh yang sempurna untuk mengilustrasikan pergolakan partisi, dengan sistem perkeretapian digunakan untuk membawa orang-orang yang terusir melewati wilayah yang tak lama kemudian menjadi perbatasan Pakistan dan India.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penumpang kelas tiga, didominasi oleh orang-orang India, menyumbangkan 90% dari arus penumpang ini. Namun, lonjakan penumpang ini tak membuat tarif turun. Juga tak menghasilkan perbaikan substansial terhadap perjalanan di gerbong kelas tiga yang kelebihan penumpang dan kondisinya kotor dan tak sehat.
Alih-alih, perusahaan-perusahaan kereta api mencari "penghematan ruang dan muatan", seperti yang dikatakan salah seorang manajer. Kereta api yang tidak memadai, kebanyakan diimpor, memperburuk masalah.
Alat 'ketenangan diri'
Para manajer kereta api, kebanyakan orang Inggris, tampaknya tak tertarik untuk memperbaiki kepadatan penumpang yang merupakan masalah sistematis, termasuk membawa penumpang di gerbong yang diperuntukkan bagi hewan ternak. Mereka malah bersikeras bahwa kepadatan penumpang ini disebabkan oleh kebiasaan aneh dan kecenderungan orang India: benci terhadap gerbong kosong dan cenderung mengikuti satu sama lain "seperti domba" ke dalam gerbong yang penuh sesak
Atribut ini tak lama menjadi narasi publik, terutama bagi mereka yang punya pola pikir Barat. Pada tahun 1929, H. Sutherland Stark, jurnalis majalah berbasis industri, Indian State Railways Magazine, menulis bahwa meskipun "belum berpengalaman" dalam administrasi perkeretaapian dan kontrol lalu lintas, dia tahu bahwa fasilitas perkeretaapian bukanlah masalahnya. Sebaliknya, penumpang India tidak memiliki kesiapan mental, "kepemilikan diri" dan "metode" yang diperlukan untuk bepergian seperti "manusia waras".
Stark menyarankan edukasi penumpang sebagai solusi terhadap "masalah" tersebut dan menjadikan perjalanan kereta api sebagai alat untuk "ketenangan diri dan ketertiban massal".
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!