Mengapa Ada Orang yang Rela Jadi Polisi atau Anggota TNI Gadungan?
📅 Jumat, 21 Apr 2023, 14:00 WIB | Oleh: Tim PenulisKonteks seperti di atas tidak hanya ditemukan pada kasus ZA. Keinginan untuk tidak tersentuh hukum menjadi salah satu faktor yang jamak dan inklusif ditemui di antara TNI dan Polri gadungan.
Tindakan mereka jamak dilakukan karena tidak hanya menjadi dasar untuk menipu, tetapi juga melakukan tindak pidana lain seperti penggelapan uang hingga kekerasan seksual. Sedangkan inklusif beerarti aksi ini tidak hanya ditemukan pada pelaku laki-laki, tapi juga perempuan TNI dan Polwan gadungan.
2. Simbol maskulinitas
Di Indonesia, kaitan antara militer dengan maskulinitas turut dibangun oleh pembentukan identitas bangsa yang berpondasikan sejarah yang militeristik dan didominasi oleh narasi terkait peperangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Historiografi demikian kemudian turut menciptakan anggapan bahwa laki-laki berseragam - baik tentara maupun polisi - adalah aktor terpenting di balik eksistensi dan keberlangsungan negara, bangsa, serta masyarakat.
Konstruksi seperti di atas dapat menjelaskan menjamurnya pandangan [real men are soldiers, real soldiers are men] (pria sejati adalah tentara, tentara adalah pria sejati) dalam masyarakat Indonesia. Ironisnya, pandangan ini tidak hanya diusung oleh laki-laki, tapi juga diamini banyak perempuan.
Di media sosial, asosiasi seragam dengan maskulinitas "dibudidayakan" oleh berbagai akun di sosial media melalui unggahan-unggahan yang seakan memamerkan seragam. Akun ini dapat berupa akun individu ataupun akun pengunggah ulang (repost) dengan keterangan yang mengasosiasikan istilah "TNI", "Polri", atau "abdi negara" dengan kata-kata yang bermakna kekaguman, seperti "ganteng", "cantik, dan "idamanku".
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah seorang pelaku berinisial ASP, polisi sekaligus dokter forensik bohongan, menyatakan bahwa ia kerap beraksi menjadi aparat gadungan demi memperdaya 10 korban perempuan, termasuk seorang polwan, berbekal seragam dan tanda kepangkatan yang ia beli sendiri. Secara tidak langsung, ia telah meladeni maskulinitas yang rapuh.
3. Representasi kemapanan
Pemujaan berlebihan terhadap profesi "abdi negara," yang dianggap memiliki penghasilan tetap dan masa purnatugas yang terjamin, turut berkontribusi dalam maraknya kasus TNI-Polri gadungan.
Dalam promosi rekrutmen atau konten-konten di media sosial, narasi terkait kemapanan ini tidak jarang digaungkan oleh aparat asli dan kerap memojokkan profesi lain terutama yang tak memiliki penghasilan tetap
MSM, lelaki asal Pekalongan yang mengaku sebagai anggota TNI-AU berpangkat prajurit satu, menerangkan bahwa ia hanya ingin meyakinkan keluarga dan kekasihnya bahwa ia telah mendapatkan pekerjaan tetap dan layak.
Sebelum putus asa dan menjadi TNI-AU gadungan, MSM empat kali gagal dalam seleksi calon prajurit TNI.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!