Tuberkulosis Sulit Dikendalikan, Peran Tenaga Kefarmasian Dibutuhkan
📅 Sabtu, 25 Mar 2023, 10:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: WHO
Ivan Surya Pradipta, Universitas Padjadjaran
Artikel ini diterbitkan untuk memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia 24 Maret.
Data terbaru dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan 10,6 juta orang menderita tuberkulosis (TB) di dunia dengan jumlah kematian akibat TB mencapai 1,4 juta orang pada 2022.
Kondisi di Indonesia tidak kalah mengkhawatirkan. Negara kita merupakan negara terbesar kedua di dunia setelah India dengan kasus TB baru mencapai 969 ribu orang dan angka kematian sebanyak 144 ribu orang.
Kondisi semakin diperparah dengan belum optimalnya pelaporan kasus dan keberhasilan pengobatan TB di Indonesia. Angka pelaporan kasus TB masih berada pada angka 45,7% dengan cakupan pengobatan masih kurang dari separuh, hanya 45% dari total kasus yang diestimasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Studi sebelumnya yang kami lakukan pada 2021 menunjukkan faktor aksesibilitas masyarakat untuk mendapatkan pelayanan pengobatan yang berkualitas dan ketidakpatuhan pengobatan telah berkontribusi terhadap kegagalan pengobatan TB di Indonesia.
Kompleksitas permasalahan TB mendorong WHO untuk memformulasikan strategi global dalam pencapaian target eliminasi TB. Salah satu di antaranya adalah mendorong keterlibatan semua sektor dalam penanganan TB, termasuk kefarmasian.
Permasalahan TB di Indonesia
Sebaiknya Anda baca juga:
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis yang dapat ditularkan melalui udara. Kemudahan penularan tersebut menyebabkan TB menjadi penyakit yang tidak mudah dikendalikan.
Permasalahan menjadi kompleks ketika ditemukan kuman TB yang kebal terhadap pengobatan lini pertama TB atau dikenal dengan istilah TB Resisten Obat (TB RO).
Adanya kuman kebal obat tersebut menyebabkan pengobatan semakin kompleks yakni pasien TB RO harus menuntaskan pengobatan selama 9 hingga 24 bulan dengan mengkonsumsi jenis obat yang bervariasi.
Meski angka keberhasilan keseluruhan jenis pengobatan TB relatif tinggi (85%), namun keberhasilan pengobatan pada kasus TB resisten obat berganda masih relatif rendah, yaitu sebesar 47%.
Hal tersebut menandakan lebih dari separuh pasien TB resisten obat ganda yang menjalani pengobatan mengalami kegagalan pengobatan berupa kematian, resistensi lebih lanjut, tidak sembuh, tidak melanjutkan pengobatan atau hilang kontak.
Gambaran data TB di tingkat nasional menyiratkan terdapat dua permasalahan utama dalam pengendalian TB di Indonesia, yaitu belum optimalnya pelaporan kasus dan keberhasilan pengobatan TB.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!